Menyadarkan Kaidah Kebebasan Berekspresi

Oleh: Ahmad Lizamuddin*

Masih teringat jelas tragedy awal bulan januari tahun 2015. Pada saat itu semua orang kaget karena serangan kelompok ekstremis bersenjata di kantor harian Charlie Hebdo, Paris Prancis. Dua orang ekstremis melakukan penembakan secara membabi buta yang menewaskan 12 orang. Kedua orang tersebut melakukan hal keji itu karena mereka marah atas penerbitan kartun-kartun nabi Muhammad pada harian tersebut.

Dulu, pernah terjadi hal serupa ketika seorang kartunis Denmark, Kurt Westergaard membuat karikatur nabi Muhammad. Kaum muslimin banyak yang tersakiti oleh karikatur nabi Muhammad. Sebagaimana diketahui semua umat islam, menggambarkan sosok nabi Muhammad dalam bentuk demikian adalah sebuah ketabuan.

Sebagai seorang muslim, saya pribadi tidak setuju dengan reaksi keras atas kartun seperti yang dilakukan kedua ekstrimist tersebut. Reaksi seperti ini semakin menguatkan pandangan negative tentang kekejaman dari umat islam yang mudah tersulut hanya karena hal sepele seperti halnya kartun nabi Muhammad. Kita harus mencari cara lain yang lebih rasional untuk membalas ketidakpuasan ini.

Tentunya, kartun-kartun yang diterbitkan sangatlah keterlaluan. Tapi, semua umat islam seharusnya tidak bereaksi demikian menghadapi urusan ini. Nabi kita sendiri tidak pernah mencontohkan kekerasan dibalas dengan kekerasan. Sebuah kisah yang menceritakan akhlak mulia nabi pada saat berdakwah dilempari batu oleh orang-orang thaif hingga nabi terluka parah. Pada saat itu malaikat jibril sangat marah dengan kelakuan orang-orang thaif terhadap nabi.

Lalu, ketika nabi haus, jibril datang dan berkata bahwa jika nabi mengijinkannya, dia akan menimpa orang-orang thaif dengan gunung uhud. Namun, nabi menjawab bahwa nabi ada tidak untuk menganiaya mereka, tapi untuk menunjukkan arah kebenaran. Bahkan, nabi berdoa supaya orang-orang thaif diberi petunjuk.

Banyak orang juga berpendapat bahwa apa yang dilakukan para kartunis merupakan hak kebebasan mereka untuk berekspresi. Bagi saya pribadi yang termasuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, sebagaimana yang saya pahami dari asumsi para kartunis, kebebasan berekspresi berarti kebebasan tanpa batas dan membolehkan setiap orang berekspresi sesuka mereka tanpa batasan.

Inilah yang membuat saya geram. Kebebasan menurut hemat saya adalah kebebasan bertanggung jawab. Maksudnya, secara social kebebasan kita dibatasi oleh hak kebebasan orang lain. Silahkan setiap orang boleh berekspresi dengan sesuka hati asalkan tidak mengganggu atau menyakiti orang lain.

Jadi, mengekspresikan keinginan atau ide kita dan melukai orang lain merupakan tindakan yang tidak diperbolehkan. Sehingga, kebebasan berekspresi yang merugikan orang lain tidak bisa disebut kebebasan melainkan penindasan.

Penulis adalah seorang Guru dan Praktisi Pendidikan yang tergabung dalam komunitas APPI (Aku Peduli Pendidikan Indonesia)

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in My Opinion, Opini saya and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menyadarkan Kaidah Kebebasan Berekspresi

  1. Setuju sekali, Mas. Di samping khawatir terhadap menjadi negatifnya pandangan orang pd muslim yg mudah tersulut emosi, yang dikhawatirkan lebih lagi adalah kalau-kalau dianggapnya di dalam Islam ada justifikasi bahwa pembunuhan dan penyerangan itu dibolehkan. Jangan-jangan, ada orang yg sudah tertarik pd Islam jadi berubah pikiran karena dikiranya Islam melalaikan kemanusiaan demi ketuhanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s