DAMPAK PILPRES TERHADAP HILANGNYA KARAKTER BANGSA

pilpres images

By: Ahmad Lizamuddin*

Pilpres 2014 merupakan pilpres yang paling panas, menarik, dan mngesankan selama sejarah pemilu Indonesia. Dimanapun berada, orang selalu membincangkan mengenai capres jagoannya meski sekarang sudah usai dan diketahui pemenangnya. Mulai dari warung kopi kaki lima atau restoran bintang lima, dari kalangan elit hingga ekonomi sulit, dan bahkan di dunia maya seperti sosmed tidak pernah absen untuk saling serang atau mempertahankan satu sama lain dari para pendukung capres.

Disisi lain, fenomena ini merupkan antusiasme yang dapat menjadi representasi sinyal demokrasi kita yang semakin berkembang. Terlihat dari banyaknya orang yang terlibat dan tertarik dalam proses mekanisme pesta demokrasi ini. Akan tetapi, suasana panas dampak dari pilpres menimbulkan perilaku yang memprihatinkan. Banyak orang mengumbar dukungan berlebihan secara terbuka. Sehingga hal ini sebenarnya bisa saja menjadi ancaman bagi demokrasi kita.

Pilpres kali ini telah merusak dan menurunkan harga diri bangsa yang menjadi motor utama demokrasi. Berbagai perilaku menyimpang dari identitas bangsa Indonesia luntur seketika karena momen ini. Selain itu, apa yang ditunjukkan oleh timses kedua kandidat cukup pula mewakili bobroknya karakter bangsa. Hal tersebut terjadi selama kampanye, setelah kampanye tapi sebelum pemilu, dan setelah pemilu.

Kampanye pilpres kali ini sangat sarat akan kampanye kotor. Dari sekian banyak sms, selebaran, broadcast dari aplikasi messenger, dls. Memberitakan keburukan capres yang tentunya jauh lebih mendominasi daripada kebaikan capres. Memang berdasar pengalaman di Negara-negara lainnya bahkan Negara maju sekalipun seperti Amerika Serikat yang konon Negara dengan demokrasi yang mapan sekalipun menunjukkan bahwa sebuah pemilu dengan hanya dua kandidat biasanya memicu lebih banyak kampanye negative. Begitu juga apa yang telah terjadi di Indonesia yang baru saja menyelesaikan hajatan besar pemilu yang begitu “kotor”.

Sebelum pemilu, Kampanye pendukung prabowo subianto memfitnah jokowi secara membabi buta. Mulai dari melabeli jokowi sebagai china yang beragama Kristen, dan bahkan seorang komunis. Sementara itu dari pendukung jokowi juga menunjukkan masa lalu prabowo yang sarat akan kekelaman masa orde baru.

Setelah pemilu, keduanya saling klaim menang sedini mungkin dari lembaga survey hitung cepat masing-masing. Prabowo dengan lembaga survey hitung cepatnya unggul dari jokowi yang selalu ditampilkan di salah satu stasiun televisi swasta nasional secara terus menerus. Tak kalah dari kompetitornya, hal tersebut juga dilakukan jokowi dengan berbagai lembaga survey hitung cepat memperoleh kemenangan yang telak dan disiarkan melalui stasiun televisi swasta nasional juga. Dampak dari kejadian ini, beberapa lembaga survey kehilangan kepercayaannya karena dianggap menyajikan hasil survey yang tidak akurat.

Lalu ketika hasil resmi dari KPU sudah dikeluarkan, yang menyatakan jokow-jk sebagai pemenangnya peristiwa unik terjadi. Prabowo menyatakan mundur dari pilpres kemudian dilanjutkan mengajukan gugatan hasil pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Bahkan, KPU selaku lembaga yang merepresentasikan demokrasi dianggap tidak kredibel dan dilaporkan ke Mabes Polri. Padahal jauh-jauh hari sebelumnya dia telah membuat pernyataan dengan jelas di berbagai media massa jika dia akan menerima hasil pilpres 2014 apapun itu.

Sejatinya pubilk figure apalagi kandidat presiden dan wakil presiden bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat dari semua kalangan secara luas khususnya bagi warga yang masih mengenyam “pendidikan” disemua tingkatan. Ditakutkan berbagai rangkaian kejadian diatas bisa memberikan dampak buruk bagi cita-cita mulia bersama yakni pembangunan kembali karakter serta nilai bangsa Indonesia yang biasa dikenal dengan istilah pendidikan karakter.

Setidaknya tiga hal hilang karena dampak pilpres yang panas. Tiga hal tersebut merupakan ciri khas karakter bagi bangsa Indonesia dimata dunia. Rasa saling hormat, kesantunan, dan jiwa sportif (legowo) yang sudah melekat lenyap seketika karena pilpres.

Rasa saling hormat sudah mulai hilang diantara sebagian bangsa Indonesia yang menjadi para pendukung capres cawapres. Semenjak sebelum kampanye hingga pemilu usai keduanya saling serang dengan maneuver khasnya. Mulai dari kata-kata keras dan kasar diantara mereka, enggan menerima perbedaan antar kelompok dls. Bahkan, hal tersebut tidak hanya ditunjukkan oleh masyarakat bawah tetapi juga kalangan terdidik melalu media cetak maupun elektronik saling “olok” dengan caranya masing-masing. Bahkan, hal demikian juga menyebabkan bentrok fisik antar pendukungpun terjadi dibeberapa daerah.

Selain itu, sikap santun yang sudah melekat begitu lama diberbagai lapisan masyarakat lenyap seakan tiada bekasnya. Berbagai tindakan yang jauh dari nilai kesantunan dilakukan dimanapun karena momen ini. Bahkan tidakan tidak santun dilakukan oleh salah seorang capres ketika mendiskreditkan institusi pengawal demokrasi (baca KPU) dengan kata-kata yang dinilai kasar.

Setelah selesai pemilu, bisa dilihat sikap legowo yang biasa dikenal oleh masyarakat terancam keberadaannya. Hal ini dikarenakan salah seorang capres sejatinya menjadi tokoh sentral saat ini seyogyanya memberikan tauladan yang baik. Padahal berbagai kalangan telah menasihatkan untuk tidak menggugat hasil pilpres. Kalaupun benar, hasil pemilu cacat ada cacat, setidaknya menenangkan kondisi bangsa jauh lebih urgen daripada mementingkan hajat pribadi. Namun, itu semua tidak digubris. Fenomena unik ini mengingatkan kembali pernyataan John McCain kandidat presiden AS rival dari Barrack Obama di periode sebelumnya. Setelah pengumuman secara resmi yang akhirnya dimenangkan Obama. Kala itu beliau memberikan ucapan selamat dan menghimbau yang intinya agar semua warga amerika yang mendukungnya semasa pilpres, untuk ikut bergabung tidak hanya memberikan ucapan selamat tetapi juga mendukung pemerintahan Obama serta menjaga persatuan.

Semoga dampak dari pilpres cukup samapai disini. Dengan demikian, ikhtiar untuk membangun kembali karakter bangsa melalui pendidikan karakter bisa tercapai. Selain itu, diharapkan semua pihak yang “bertikai” lebih mengedepankan kepentingan bangsa daripada hajat kelompok mereka. Sehingga kondisi bangsa dan Negara Indonesia bisa tenang dan damai.

*Penulis adalah seorang Guru Relawan Sekolah Guru Indonesia Angkatan V Dompet Dhuafa.

Data diri singkat:

Nama   : Ahmad Lizamuddin

Alamat            : Sungai Bulan, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

Nomor Hp: 081215474084

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Kubu Raya, My Opinion, Opini saya, SGI (Sekolah Guru Indonesia) and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s