Mudik Modal Shalat Hajat

Oleh: Ahmad Lizamuddin

Aku masih teringat betul apa yang dibicarakan orang tuaku melalui telfon dua hari lalu. Saat itu kedua orang tuaku menanyakan mengenai kepastianku untuk mudik atau tidak. Sebelumnya aku sudah merencanakan untuk tidak mudik dengan segala pertimbangan, terutama adalah pertimbangan finansial. Setiap orangtuaku menanyakan akan kepastianku, selalu ku jawab dengan berlawanan apa yang mereka inginkan, ku jawab “dereng ngertos mi, bah”.

Jawabanku ini bukanlah tidak beralasan. Bukan berarti ku jawab seperti ini tiada keinginan dalam hati untuk menjumpai kedua orangtuaku dan keluargaku semua. Saat itu ku buka dompetku, hanya beririsi uang Rp.20.000,- ku coba cek rekening bankku melalui fasilitas ibanking, hanya tersisa Rp.135.000,- melihat kondisi finansialku, jadi wajarlah, jika jawaban tersebut terlontar dari mulutku.

Kondisi finansialku yang memprihatinkan ini bukanlah disebabkan oleh gaya hidupku yang nekoneko. Hal ini disebabkan tidak adanya pemasukan selama ku tinggal di “kota hujan ini”. Berbeda dengan keadaanku di Semarang dulu, yang memiliki pemasukan sehingga bisa memenuhi kebutuhanku. Di sini memang semua kebutuhan primerku seperti makan, minum, dan tidur sudah terjamin. Namun, aku harus memenuhi kebutuhan tambahanku sendiri. Jadi sangat wajar jika yang saat ku berangkat jumlah tabunganku berkisar 300 ribuan hanya tersisa segitu. Seiring berjalannya waktu uang tersebut ku gunankan untuk memenuhi kebutuhan hidupku disini, dan hanya tersisa 50 ribu.

“Money is not everything but everything needs money”. Aku benar-benar masih teringat betul ungkapan ini. Jadi wajar sekali jika aku agak kebingungan dengan uang segini, aku harus membeli tiket bus yang harganya naik berlipat-lipat seharga tiket peasawat promo.

Merespon kondisiku secara finansial yang memasuki kategori “emergency”, bukan berarti aku hanya pasrah saja dengan keadaan. Aku lakukan berbagai ikhtiar yang pada waktunya bisa untuk memebeli tiket mudik. Ku mulai ikhtiar tersebut sejak awal ramadhan. Mulai dari mengirimkan tulisan ke berbagai media massa, yang akhirnya tak ada satupun yang dimuat. Lalu, ku coba menghubungi teman-temanku menanyakan kira-kira ada job terjemah atau gak. Karena dua jenis pekerjaan inilah yang hanya bisa ku lakukan di sela waktu padatku selama pembekalan. Namun, hasilnya pun nihil, teman-teman bilang job lagi sepi, karena pas libur semester mahasiswa pasca.

Ramadhan tibalah saat-saat terakhirnya, orang tua selalu menanyakan tentang kepulanganku. Sangat bisa dimaklumi kalau mereka sperti itu. Hal tersebut bisa mungkin dikarenakan ketidak beradaanku di hari idul fitri tahun depan. Insyaallah di hari itu aku akan berada di daerah penempatan untuk mengabdi sebagai pendidik. Jadi wajarlah aku merasa gusar karena tidak bisa memberikan kepastian bagi kedua orang tuaku mengenai kepulanganku.

Tepat setelah selesai salat tarawih, pada tanggal 1 agustus, aku termenung lalu teringat “ud’uni istajib lakum”. Iya, ini janji tuhan yang tak mungkin dusta. Teringat pula nasihat salah seorang guru, ketika menyampaikan khutbah jum’at. Beliau menyampaikan mengenai makna solat yang esensinya adalah doa. Singkatnya, alangkah baiknya jika kita ingin berdoa, maka lakukanlah solat. Oleh karena itu, ada beberapa jenis solat yang ditujukan sesuai dengan keperuntukannya. Jikalau mau selamat dalam berpergian, ada solat safar. Jika ada yang diinginnkan, ada solat hajat, dls. Lalu tidak pikir panjang lagi, ba’da tarawih ku lakukan solat hajat dua rakaat, kemudian berdoa dengan menundukkan diri, ku adukan keinginanku untuk bertemu orang tua yang telah menanti kepulanganku. Ritual ini juga ku lakukan ketika melaksanakan qiyamul lail, setelah melaksanakan solat tahajud. Terkadang terbesit dalam pikiran, entah kenapa di saat-saat kaya gini aku merasa titik kurva spiritual keimananku berada di titik tertinggi? Apakah aku musti kepepet dulu supaya jadi lebih beriman? Astaghfirullah..

Pada tanggal 2 agustus malam, ada teman asrama, sebut saja udin yang mengajak untuk ikut mudik gratis yang difasilitasi oleh salah satu parpol nasionalis. Dia sudah usaha untuk daftar tapi ada masalah dari pihak panitia mengenai pendistribusian tiketnya. Jadi dia sendiri belum jelas mengenai kepulangannya. Namun, ada titik terang saat dia mengantri tiket, mendapatkan penjelasan dari salah seorang panitia yang intinya menghimbau bahwa bagi yang tidak kebagian tiket tetap datang keesokan harinya. Akhirnya, pada saat sebelum tidur, dia datang ke kamarku, dan bilang “nek pengen melu balik angger melu wae rak po2, kemungkinan isih iso, aku yo durung jelas nasibku, podowae jenenge wae usaha”.

Benar-benar ku mantapkan niat untuk pulang, di pagi harinya aku dan beberapa teman asrama beranjak pagi, ba’da subuh menuju buper cibubur, dengan mencarter mobil. Rombongan kami berjumlah delapan orang. Kami pulang ke tujuan kota asal masing-masing, sepeti Lombok, Semarang, Padang, Palembang, dls. Ketika telah sampai di tempat pemberangkatan, permasalahan yang timbul semakin beragam, mulai dari kericuhan pembagian tiket, kesulitan mencari bus, ada isu tiket bus palsu, dls. Namun, aku tetap yakin aku akan bisa pulang bertemu keluargaku.

Setelah melewati permasalahan-permasalahan yang ada, akhirnya ku dapati bus jurusan Solo. Sekilas, agak lucu memang, karena kota asalku adalah demak, kenapa aku ikut bus Solo? Ah gak peduli, yang penting bisa pulang. Bus jurusan solo, pastilah melewati Semarang, aku hanya ikut sampai Semarang, lalu perjalanan menuju demak bisa disambung dengan bus antar kota biasanya.

Setelah menunggu hampir tiga jaman akhirnya bus berangkat.. iya, kesampaian juga untuk pulang.. memang kau tak pernah mengingkari “janji” yang telah kau buat.

 

Mushola Hidayatullah, Semarang,

3 Agustus 2013

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Bogor, cerita-cerita fiksi/fictive stories, SGI (Sekolah Guru Indonesia), uneg-uneg dan renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Mudik Modal Shalat Hajat

  1. Sugeng Riyadi. Selamat merayakan kesyukuran dan kemenangan di perantauan. Maaf lahir batin 🙂

  2. Feny says:

    Zam… baru baca tulisanmu. Terharu aku zam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s