Sertifikasi guru; tentang profesionalisme atau kasta

man-teaching-students piramida-kasta

Sertifikasi guru; tentang profesionalisme atau kasta

Oleh: Ahmad Lizamuddin

Beberapa waktu lalu kita semua mengetahui tentang adanya kebijakan dari pemerintah terhadap sektor pendidikan yakni program sertifikasi guru.

Konon Hal ini dilakukan demi memperbaiki kualitas pendidikan nasional secara umum, khususnya kualitas guru.

Peran yang dimiliki seorang guru sangatlah penting untuk pendidikan karena gurulah yang menjadi kawah candra dimuka terhadap kebijakan pemerintah dibidang pendidikan.
Gurulah yang terlibat secara langsung mendidik melalui proses pembelajaran dikelas. Guru jugalah nantinya yang akan berhubungan secara langsung dengan anak didiknya.

Menyadari urgensi posisi guru, tidak salah jika pemerintah mengeluarkan kebijakan demikian dengan tujuan perbaikan kualitas. Atau dengan kata lain, untuk membuat guru profesional melalui program sertifikasi.

Sebenarnya, melihat kebelakang dari usaha perbaikan guru sudah dimulai sejak masa pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Diawali dengan adanya lembaga pendidikan seperti SPG atau PGA yang mengarahkan alumninya menjadi guru. Lalu, seiring berjalannya waktu ada kebijakan yang menyaratkan bahwa seorang guru musti berpendidikan minimal diploma. Kemudian dilanjutkan penyaratan pendidikan seorang guru yang harus lulus s1. Yang terakhir adalah program sertifikasi yang digunakan untuk memberikan label seorang guru profesional. Untuk kabar terbaru yang bisa dibilang masih kabar burung bahwa nantinya seorang guru musti berpendidikan magister atau s2.

Jadi dengan ikhtiar tersebut diharapkan kualitas pendidikan di indonesia tumbuh menjadi lebih baik. Dengan diawali perbaikan kualitas pendidiknya.

Salah sasaran

Cita-cita mulia dari program sertifikasi ternyata tidak terealisasi sesuai khitohnya. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya inovasi-inovasi pembelajaran yang dibuat oleh guru yang telah menerima sertifikasi. Bahkan saya berani menjamin bahwa dari 50 guru yang sudah menerima tunjangan sertifikasi, hanya 1 yang bisa menerapkan cita-cita mulia dari program tersebut. Sungguh mencengangkan bukan?

Oleh karena itu sangat wajar bila publik menilai program ini dijalankan dengan tidak semestinya. Tujuan program ini dijalankan atas dasar perbaikan kualitas guru yang profesional. Jika seorang guru sudah profesional, maka dia berhak mendapatkan tunjangan dengan catatan untuk stimulan “kreatifitas” dalam pelaksanaan pembelajaran yang dulunya dikeluhkan oleh para guru sebagai tuntutan berat. Namun sejauh ini menurut hemat pribadi, sertifikasi baru menyelesaikan permasalahan kesejahteraan para guru saja belum bisa mendukung tercapainya program.

Kasta guru kita

Di lapangan, usaha untuk peningkatan kualitas guru melalui sederet program hanya dianggap angin lalu saja. Dari beberapa program tersebut hanya nenciptakan masalah baru yakni pengkastaan kelas para guru.

Pengkastaan kelas guru tidak jauh berbeda dengan pengkastaan pada agama hindu. Ada empat kasta dalam agama hindu yaitu sudra, waisya, ksatria, dan brahmana.

Zaman dulu, seseorang disebut guru karena mengabdikan dirinya untuk mendidik, mengamalkan ilmunya kepada anak didiknya. Lalu, seiring berjalannya waktu kata guru mengalami spesifikasi pemaknaan yakni hanya sebatas pengajar di lembaga peendidikan formal saja.

Secara tidak langsung transformasi makna dari kata guru diatas dapat menggolongkan atau mengkelompokkan guru ke dalam beberapa golongan. Bukan begitu?

Pada saat ini penggolongan (kasta.red) guru semakin berwarna. Awalnya adanya pembedaan antara guru honor dengan PNS. Kemudian muncul lagi adanya kebijakan baru sertifikasi guru maka bertambah pula kasta guru di negeri ini. Sangat memungkinkan kasta baru akan muncul lagi jika ada kebijakan yang terkait dengan guru misalnya adanya pendidikan magister yang harus ditempuh oleh guru.

Seharusnya berbagai program untuk peningkatan kualitas guru benar-benar dipahami sebagaimana khitah dari tujuan program tersebut. Bukan hanya dijadikan formalisme belaka apalagi berdampak pengkastaan seperti ini. Jika hal demikian masih saja terjadi, mau dibawa kemana pendidikan negeri kita?

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Kubu Raya, Opini saya, SGI (Sekolah Guru Indonesia) and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s