Mencontek pada saat UN dan Pendidikan Karakter

Oleh: Ahmad Lizamuddin*

Pelajar dari berbagai tingkatan pendidikan mulai dari SD hingga SLTA tidak lama lagi melaksanakan ujian. baik ujian sekolah maupun ujian nasional yang akan dilaksanakan pada tingkat pendidikan SLTP dan SLTA. Momen ini tidak kalah menyita perhatian banyak pihak dibandingkan isu-isu atau momen pemilu yang juga dilaksanakan sebentar lagi, mulai dari pihak sekolah, orang tua, masyarakat, LSM, dls. Bahkan ada pula para aktivis yang semakin meningkat jumlahnya yang menaruh perhatian pada pelaksanaan UN karena pada kenyataannya, UN sudah lazim dihiasi dengan berbagai maslah. Mulai dari distribusi yang tidak tepat waktu, lembar soal yang rusak, hingga kecurangan seperti contek-mencontek yang tidak hanya dilakukan sesame siswa tapi juga berjamaah yang melibatkan beberapa pihak mulai dari sesame siswa, guru, dan para pemegang otoritas pendidikan di berbagai tingkatan.

Saya teringat sebuah pernyataan pak bambang widjayanto salah seorang wakil pimpinan KPK pada sebuah Koran berbahasa inggris yang dijadikan bungkus gorengan yang saya beli kemarin. He has warned that cheating on the exams is one of the roots of corruption and school students should avoid doing so (The Jakarta Post, April 16, 2012).

Nyontek tidak hanya dilarang, tetapi juga “menodai” semangat pendidikan karakter yang sedang digadang-gadang dimuat dalam kurikulum 2013 yang akan diberlakukan sebentar lagi diseluruh Indonesia. Secara tidak langsung bisa disimpulkan bahwa mencontek melawan upaya untuk membangun karakter negeri ini.

Munculnya pendidikan karakter sebagai isu utama yang sedang naik daun di Indonesia akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa pendidikan kita masih saja lebih memenuhi “keinginan-keinginan” secara individu daripada kebutuhan umum untuk perbaikan karakter semua warga Negara, yakni yang menjadi tujuan pendidikan nasional.

Tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertulis dalam pasal 3 UU sisdiknas no.20 tahun 2003 yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pada kenyataannya, itu semua dikesampingkan. Hasilnya, pendidikan cenderung membuat siswa lebih termotivasi untuk mementingkan keinginan diri sindiri dari pada mempertahankan sifat kebaikan-kebaikan secara umum. Mereka tidak lagi peduli mengenai esensi tujuan mereka melakukan proses pendidikan sekian lama. Yang mereka pikirkan bagaimana mereka bisa lulus, dengan hasil yang baik, dengan cara yang “mudah”.

Dengan demikian, Jika tidak segera disadari, praktik nyontek dalam pendidikan, khususnya pada ujian nasional, akan menghapus semangat menciptakan manusia yang beradab sebagaimana yang dibutuhkan untuk masa depan negeri ini. Kecurangan-kecurangan ini hanya akan memelihara egoisme kebutuhan individu yang mengingkari tujuan pendidikan nasional.

Para filosof terdahulu telah mengungkapkan tentang urgensi moral dan spiritual untuk menciptakan masyarakat yang beradab melalui pendidikan. Filosof yunani, Socrates (470-399 BC) dan Confucius dari china (551-479 BC) telah menyatakan tentang pentingnya perkembangan dari kebaikan-kebaikan masyarakat dan nilai-nilai didalamnya bergantung pada pendidikan mereka.

Keduanya menekankan pentingnya karakter dari perkembangan kepemimpinan dan kemunasiaan melalui perwujudan insan-insan yang bijak dan bersifat baik. Pendidikan dipandang oleh mereka berdua sebagai aktualisasi pencarian abadi dibidang pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan.

Selain itu, konsep pendidikan kararkter yang termaktub dalam kurikulum 2013 juga memiliki ranah-ranah penting untuk membangun karakter, yakni setidaknya melingkupi aspek pengetahuan rasional, aspek nilai kebaikan kemanusiaan, serta aspek religi dan spiritual.

Akan tetapi, Kecurangan yang dipraktikkan hanya akan melunturkan kecintaan siswa untuk belajar. Hal ini disebabkan bahwa para siswa tidak berpikir lagi jika keberhasilan dalam belajar yang didapat harus melalui proses belajar, tapi bisa diperoleh melalui “short cut” meskipun ini melanggar aturan.

Nyontek juga akan menjauhkan para siswa dari sebuah rasa ingin hidup dengan sifat-sifat baik. Alasannya sederhana, mereka akan beranggapan bahwa kelulusan atau keberhasilan dalam studi bisa diraih dengan cara apapun yang bisa dilakukan, bahkan mencontekpun bisa dipilih. Dalam kehidupan nyata, secara tidak langsung mereka dibiasakan untuk melakukan apapun untuk memenuhi keinginan mereka meski bisa saja “melukai” banyak orang.

Jadi, Seandainya kecintaan belajar untuk hidup dengan sifat-sifat baik telah meninggalkan para siswa, setidaknya tiga aspek tersebut diatas yang hendak dikembangkan dalam pendidikan karakter pastinya akan hilang.

Pertama, daripada bisa melaksanakan belajar mandiri dan pengembangan yang dibutuhkan dalam kehidupan, seorang siswa bisa bergantung pada bantuan dari yang lain. Pembiasaan ini akan mengantarkan pada hidup yang bertahan untuk menjadi sebuah beban bagi yang lainnya.

Kedua, dari pada kepayahan untuk memecahkan masalah dari kehidupan secara tuntas, seorang siswa diarahkan untuk terjebak kedalam cara sedemikian rupa untuk memilih kehidupan yang serba instan.

Ketiga, dengan kebiasaan mencontek, para siswa kita tidak mampu menjadi seorang individu dengan karakter yang kuat dalam kehidupan yang serba mengalami kemrosotan moral akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, para stake holder pendidikan, baik guru, kepala sekolah, dan pemerintah serta semua masyarakat,sudah sewajarnya berpikir dan memerangi dengan keras kebatilan-kebatilan di dunia pendidikan khususnya mencontek. Hal ini ditujukan untuk menyelamatkan Negara ini. Karena UN adalah salah satu bentuk proses akhir dari sebuah proses pembelajaran, seharusnya momen ini tidak dikotori dengan praktik-praktik kecurangan.

Selain itu, Sangat jelas, nyontek adalah bentuk lain dari ketidak jujuran. Dan sebagaimana yang kita ketahui, ketidak jujuran merupakan awal dari semua keburukan atau kejahatan. Bisa jadi carut-marut kondisi Negara saat ini adalah sebuah konskwensi dari hilangnya kejujuran orang-orang yang mendapatkan amanah jabatan di pemerintahan.

Jika kejujuran tidak lagi dijaga dan diterapkan dalam praktik pendidikan, sudah jelas sekali pendidikan telah menyumbang besar kejahatan pada lembaga-lembaga di negeri ini. Oleh karena itu, masalah UN harus diberi perhatian yang intensif mulai dari dalam perencanaannya hingga pelaksanaannya. Hal ini dilakukan demi pembangunan karakter untuk kemajuan negeri ini.

*Penulisadalahseorang Guru RelawanSekolah Guru Indonesia Angkatan V DompetDhuafa.

Data dirisingkat:
Nama : Ahmad Lizamuddin
Alamat : Sungai Bulan, Kecamatan Sungai Raya, KabupatenKubu Raya, Kalimantan Barat
NomorHp: 081215474084/085245245935

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Kubu Raya, My Opinion, Opini saya, SGI (Sekolah Guru Indonesia) and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Mencontek pada saat UN dan Pendidikan Karakter

  1. ahmadlizam says:

    Ya………tinggal situasi dan kondisi sekolah masing-masing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s