Meluruskan Pola Pikir Guru tentang Perubahan Kurikulum

Oleh: Ahmad Lizamuddin, S.Pd

“Ganti Kurikulum Ganti Buku”, barang kali ungkapan tersebut sangat tepat untuk mewakili pemikiran sebagian guru di Indonesia. Dari sini bisa disimpulkan bahwa produk dari sebuah kurikulum di mata mereka adalah buku ajar. Lalu salahkah persepsi mereka?
Pada dasarnya yang dimaksud kurikulum yang termaktub dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Jadi kurikulum disini dsimpulkan sebagai grand design dari sebuah pendidikan.

Sebagaimana yang dikabarkan, Kurikulum 2013 tidak lama lagi akan diimplentasikan secara serentak pada tahun ajaran baru nanti. Semua stake holder pendidikan terasuk guru melakukan persiapan untuk menyambut barang baru ini. Mereka sangat disibukkan dengan mempelajarinya baik melalui diklat, maupun belajar secara mandiri mengenai kurikulum setengah matang ini. Konon, kurikulum tersebut akan memberikan dampak yang signifikan pada pendidikan di negeri ini.

Mendalami kurikulum 2013 secara intensif tidaklah salah. Akan tetapi memperbaiki pola pikir guru jauh lebih penting dilakukan secara intensif pula. Karena melihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, pertama kali yang dilakukan sebagian guru ketika terjadi pergantian kurikulum adalah mencari tahu tentang perubahan konten materi pembelajaran. Apapun jenis kurikulumnya, baik KBK maupun KTSP, mereka melakukan hal yang serupa. Perubahan materi selalu dicermati. Setelah itu adakah urutannya yang berubah? Langkah ini sangat penting karena menentukan langkah selanjutnya yakni menentukan buku teks mapel yang sesuai. Darisini, maka istilah ganti kurikulum ganti buku pun lahir.

Tidak memperdulikan apapun latar belakang yang mendasari perubahan kurikulum merupakan jalan yang dipilih. Hal tersebut bukanlah permasalahan urgen yang perlu dicari tahu. Guru sudah merasa tahu tentang sebuah kurikulum baru dengan mengetahui perubahan konten materi dan urutannya. Apa pun pembaharuan yang dibawa dari sebuah kurikulum baru mulai dari pendekatannya, motivasinya, dan cara assesmennya tidak akan pernah mengubah cara guru melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sudah dirasa nyaman.

Langkah yang dilakukan selanjutnya adalah melengkapi administrasi pendidikannya karena pada saat-saat tertentu seperti supervisi, pejabat sekolah maupun diknas menuntut hal ini. Alhasil, jalan pintaspun diambil. Banyak situs-situs internet menyediakan contoh silabus, contoh RPP yang bisa diunduh dengan berbayar atau bahkan gratis. Lalu, identitas sekolah diubah, ditandatangani, dikumpulkan, selesailah sudah. Sangat sering ditemukan beberapa guru yang kurang teliti bahkan lupa mengganti nama guru dan nama sekolah pada silabus atau RPP. Sehingga, jelas sekali bahwa silabus dan RPP tersebut tidak dibuat sendiri.

Selain itu, banyak diklat atau bimbingan teknis dilaksanakan oleh diknas dengan pengenalan metode mengajar, assessment, dan hal-hal lainnya yang menjadi teknis yang sesuai dengan pendekatan dan teori psikologi belajar yang sesuai kurikulum baru, dipahami sebagai barang baru yang belum pernah ada sehingga muncul istilah-istilah baru bertebaran bak tumbuhnya jamur di musim hujan. Mulai istilah PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menarik), PAIKEM (dengan tambahan istilah Inovatif), istilah Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi yang akrab disingkat “EEK” menjadi sangat popular disebut atau dicantumkan di perangkat-perangkat pembelajaran. Namun, guru tidak tahu mengapa istilah-istilah itu ada pada sebuah kurikulum. Mereka fasih menyebut pembelajaran yang dilakukan dari zaman KBK hingga KTSP adalah Students Centered (berpusat pada siswa) dan guru hanya sebagai fasilitator. Akan tetapi kenyataannya? Guru seakan ogah meninggalkan “warisan” dari para guru-guru pendahulunya yang dirasa lebih nyaman.

Dengan demikian, perubahan kurikulum diharapkan membawa perubahan pula pada pendidikan nasional. Termasuk perubahan stake holder pendidikan kearah yang lebih baik tentunya. Begitu pula perubahan guru khususnya akan sambutan terhadap perubahan kurikulum. Memperdalam telebih dulu kurikulum baru yang akan digulirkan jauh lebih penting dari pada sekedar menyiapkan konten materi ajar yang berubah dengan implementasi pembelajaran tidak berubah. Sehingga, “mindset” dari ganti kurikulum ganti buku dapat dikikis.

*Penulis adalah seorang Guru Relawan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Angkatan V Dompet Dhuafa.

Data dirisingkat:
Nama : Ahmad Lizamuddin
Alamat : Sungai Bulan, Kecamatan Sungai Raya, KabupatenKubu Raya, Kalimantan Barat
NomorHp: 081215474084/085245245935

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Kubu Raya, My Opinion, Opini saya, SGI (Sekolah Guru Indonesia) and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s