GURU GALAK MENDAPATKAN HASIL LEBIH BAIK, MENGAPA?

Oleh: Ahmad Lizamuddin*

Saya pernah memiliki seorang guru yang rajin menyebut murid-muridnya “goblok” ketika kami tidak bisa menghafalkan atau mengerjakan tugas dari materi yang telah diberikan. Beliau adalah guru Bahasa arab saya ketika saya masih duduk di bangku kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, setingkat kelas 3 SD.

Melihat ciri khas guru ini yang selalu ringan mengucapkan kata “goblok”, saya dan kawan-kawan menjulukinya “pak Gob”. Tidak hanya kata-kata keras dan kasar saja yang keluar dari mulutnya ketika para siswa tidak bisa melaksanakan tugasnya. Namun, hukuman fisik seperti dipukul menggunakan gagang sapu dls. Sudah biasa menjadi bumbu penyedap dalam kegiatan belajar mengajar.

Berbeda yang beliau tunjukkan ketika para siswa telah bisa melaksanakan tugas yang diberikan, beliau tidak enggan untuk memberikan pujian atau bahkan hadiah permen yang sering sekali beliau siapkan.

Dengan strategi pembelajaran yang dilakukan guru saya membuahkan hasil yang luar biasa. Para murid hampir seluruhnya “menguasai” materi yang diberikan. Kami sebagai murid bisa melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh beliau dengan baik. Bahkan, dengan usia segitu kami sudah mampu praktik “ muhadtsah” (percakapan) dengan sesama siswa. Bahkan hingga saat ini, kalau boleh jujur, kaidah-kaidah tata Bahasa arab (nahwu dan sorof) yang saya pahami karena beliau.

Membandikan apa yang telah dilakukan oleh guru saya dengan hasil-hasil temuan penelitian di dunia pendidikan saat ini, ibarat langit dan bumi. Banyak teori-teori pendidikan gaya modern yang memberikan terobosan seperti cooperative learning, active learning, learning based research, dls. Saya praktikan pada kegiatan pembelajaran. Namun, hasil yang diberikan tidak seperti yang saya harapkan. Apakah ini saatnya untuk menghindupkan kembali gaya mengajar konvensional (ceramah dan menghafal); Mengajar hanya menyampaikan konten materi mata pelajaran dengan dibumbui hukuman fisik yang keras serta kasar?

Jika boleh berandai-andai, jika saya punya seorang anak usia sekolah diperlakukan serta diajar seperti yang saya pernah rasakan, saya akan protes keras kepada sang guru serta pihak sekolah. Saya beranggapan bahawa metode konvensional (ceramah dan menghafal) “membunuh” kreatifitas dan motivasi anak saya. Karena masa sekolah merupakan masa emas perkembangan anak, seyogyanya sekolah serta guru menjadi penunjangnya.

Setelah membca beberapa hasil penelitian beberapa tokoh pendidikan, asumsi saya terbantahkan telak. Tidak sepenuhnya apa yang dilakukan guru “galak” saya salah. Berikut penjelasan dari bantahan asumsi saya sebelumnya mengenai apa yang suda dilakukan oleh guru saya.

Sedikit “sakit” baik bagi murid

Psikolog K. Anders Ericsson meraih popularitasnya disebabkan risetnya menunjukkan bahwa seorang dikatakan ahli membutuhkan sekitar 10.000 jam latihan. Gagasan ini juga dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya “Outliers.” Akan tetapi ada sebuah pandangan yang sering menyebutkan yang sama pentingnya bahwa diungkapkan oleh Dr. Ericsson di artikel Review Bisnis Harvard, tahun 2007. Beliau menilai penelitian pada para pelaku dari berbagai bidang mulai permainan biola, ilmu bedah, pemograman computer, hinga catur. Dan dia mendapati bahwa semuanya pasti memerlukan para pelatih yang tidak sentimentil yang akan selalu menantang mereka dan membimbing mereka pada kemampuan lebih tingi. Seorang yang bisa ahli membutuhkan guru-guru yang memberikan umpan balik (feedback) walau itu menyakitkan (disebutkan dalam artikel)

Belajar, berlatih, dan belajar

Practice makes perfect, barangkali itu mewakili apa yang telah diajarkan oleh guru saya dulu. Dengan cara beliau mengajar. Dengan konsep reward and punishment yang diterapkan dapat membuat para murid selalu menyiapkan diri mereka sebelum masuk kelas. Mereka sangat giat belajar serta berlatih dengan sungguh-sunguh. Bahkan, tidak jarang saya dan teman-teman musti begadang untuk menghafalkan kaidah-kaidah nahwu (jurumiyah) hingga larut malam. Perjuangan ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari berbagai hukuman jika tidak bisa menyelesaikan tugas dari sang guru.

Jadi, tidak dipungkiri jika materi yang kami hafal pada saat itu, belum tentu kami memahaminya. Jika diacukan pada taksonomi bloom, menghafal merupakan tingkat kecerdasan paling rendah. Namun, saya pribadi tidak merasa bahwa hal itu sia-sia karena beberapa kaidah yang meski sudah saya hafal lama tatap bermanfaat (baru dipahami) pada usia-usia kuliah.

Kegagalan adalah sebuah pilihan

Pilih bisa menghafal dan bisa melaksanakan tugas dari guru lalu kadang mendapatkan hadiah atau tidak bisa menghafal dan menyelesaikan tugas yang diberikan lalu sudah pasti mendapat hukuman? Dari cara seperti ini saya dan teman-teman diajarkan untuk menjadi bijak dalam memilih secara tidak langsung. Kami diarahkan untuk memikirkan konskwensi yang didapatkan dalam mengambil sebuah pilihan.

Selain itu, beliau juga menanamkan pada diri kami rasa optimis dan mandiri luar biasa. Ingin mendapatkan keberhasilan atau kegagalan tergantung pada pilihan kami.

“ketat/tegas” lebih baik dari pada lemah lembut

Teringat salah satu bait puisi Dorothy yang sangat terkenal tentang cara mendidik anak; “Jika anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya”. Secara tidak langsung bait ini bisa memiliki makna bahwa jika anak dibesarkan dengan keketatan (baca: keras), ia tidak menemukan cinta dalam kehidupannya.

Stigma diatas terbantahkan oleh sebuah hasil penelitian dari tim peneliti yang dipimpin oleh Mary poplin, sorang dosen ilmu pendidikan dari universitas Claremont (Claremont Graduate University). Beliau menghabiskan waktu lima tahun untuk mengamati tiga puluh satu guru yang dinilai paling efektif kualitasnya (didasarkan pada penilaian siswa) dari sekolah-sekolah yang diangap memiliki kualitas paling buruk di Los Angeles, di sekitarnya juga seperti South Central dan Watts. Tim ini mendapati bahwa guru-guru tersebut dinilai selain piawai menyampaikan pembelajaran dengan berbagai strategi, mereka juga dinilai “ketat”.

Jadi, guru saya sudah jelas sekali dengan caranya secara tidak langsung mengajarkan kami displin. Semua orang sangat sepakat bahwa segala “prestasi” yang diinginkan sangat bisa diraih dengan kedisiplinan. Dengan begini saya dan teman-teman sejak dini dibekali dengan kedisiplinan tinggi sehingga sangat membekas hingga saat ini.

Kreatifitas bisa dipelajari

Setiap anak yang lahir didunia ini membawa “keunikan” (baca bakat) nya masing-masing, salah satunya kreatifitas. Sebelumnya, saya sangat menentang jika anak saya diajar dengan cara seperti yang saya alami dulu karena ia akan kehilangan kreatifitasnya. Sebagaimana halnya bahwa sekolah merupakan salah satu tempat untuk mengembangkan kreatifitas.

Namun, kekhawatiran ini juga terbantahkan oleh seorang professor psikologi asal universitas temple, Robert W. Weisberg. Beliau telah mengkaji para orang genius yang kreatif termasuk Thomas Alfa Edison, Frank Lloyd Wright, dan Picasso. Beliau menyimpulkan bahwa tiada orang yang dilahirkan genius kreatif. Sebuah pekerjaan paling kreatif membutuhkan kerja keras dan melalui beberapa tahap dari sekian tahap. Sehingga pada akhirnya dapat meraih hasilnya yang bisa muncul sebagai “terobosan”.

Prof. Weisberg juga menganalisa mahakarya picasso Guernica tahun 1937 yang dilukiskan setelah spanyol dibom oleh german. Lukisan tersebut dipertimbangkan sebagai sebuah lukisan yang memiliki konsep yang segar dan original. Tapi beliau mendapati juga bahwa karya ini cukup dekat terhubung pada beberapa karya-karya Picasso sebelumnya selama karir melukisnya.

Dengan begini, kekhawatiran yang selama ini timbul cukup bisa reda melihat tinjauan ilmiah yang sudah ada diberikan oleh para pakar.

Dari berbagai alasan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa sebagai seorang guru sudah seharusnya piawai menggunakan strategi pembelajaran sesuai kondisi yang ada. Bukan berarti strategi-strategi pembelajaran kontemporer dirasa lebih baik dari strategi lama. Namun, jika kondisi siswa mengharuskan seorang guru untuk menghidupkan kembali “old fashioned education” atau strategi lama untuk mendidik, bahkan menjadi “galak”.

*Penulis adalah seorang Guru Relawan Sekolah Guru Indonesia Angkatan V Dompet Dhuafa.

Data diri singkat:

Nama   : Ahmad Lizamuddin

Alamat            : Sungai Bulan, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

Nomor Hp: 081215474084/085245245935

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Kubu Raya, My Opinion, Opini saya, SGI (Sekolah Guru Indonesia) and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s