BOGOR: DARI KOTA HUJAN, KOTA ARTIS, HINGGA KOTA SERIBU ANGKOT

Setelah lumayan agak lama istirahat menulis, akhirnya malam ini saya coba luangkan waktu dari ketatnya jadwal untuk mencoretkan rangkaian kata-kata. Hal ini saya selalu niatkan untuk “belajar”.

Pada kesempatan kali ini saya menjelaskan sedikit profil kabupaten bogor yang saya telah tinggal di sini sejak bulan juli lalu. Layaknya kota atau wilayah pada umumnya yang memiliki beragam “julukan” yang diambil dari representasi potensi-potensi kekhasan yang dimiliki, bogor pun demikian. Banyak sebutan yang sudah diberikan oleh  banyak orang. Ada beberapa yang menyebutnya sebagai kota hujan. Sebagian menyebutnya sebagai kota artis. Tidak ketinggalan banyak orang menyebutnya sebagai kota seribu angkot.

Sebutan bogor sebagai kota hujan memang yang paling popular sejak dulu di telinga masyarakat. Masih teringat betul ketika saya berkunjung ke kota ini di tahun 2006 tepatnya di kawasan puncak untuk berwisata, saya menyaksikan hujan dengan mudahnya turun ketika sore tiba. Saat itu memang saya pernah bertanya-tanya dalam benak saya akibat fenomena alam ini, “kalau seperti ini, sungguh malang nasib penduduk kota bogor, cuciannya jarang yang kering dalam waktu sehari”.

Lalu mengapa demikian? Apa penyebab tingginya curah hujan disini? Kota Bogor terletak pada ketinggian 190 sampai 330 m dari permukaan laut. Udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 °C dan kelembaban udaranya kurang lebih 70%. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah 21,8 °C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi angin muson barat.

Penyebab tersebut semakin kuat dengan melihat kenyataan bahwa Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%) sehingga dijuluki “Kota Hujan”.(cited from wikipedia)

Kedua, sebutan kota artis. Awalnya saya tidak bisa menerima dengan sebutan ini untuk Bogor. pasalnya, di lingkungan saya tinggal sekitar sini, tergolong area pedesaan atau pedusunan. Maaf jika dibandingkan kota asal(Demak) dan kota singgah saya sebelumnya (Semarang), keduanya jauh lebih “metropolis”. Padahal lokasinya jauh lebih dekat menuju ibu kota Indonesia, Jakarta. Sehingga, saya tidak bisa menerimanya.

Namun, persepsi saya yang menyebutkan kota ini tidak “layak” sebagai kota artis benar-benar terbantahkan sekitar tiga hari yang lalu. Saya baru saja selesai melaksanakan program praktik profesi sebagai seorang guru di SD Negeri Tegal Jaya 01 yang terletak di desa Kampung anyar, kecamatan kemang, kabupaten Bogor. Saya menemukan suatu hal yang sangat unik di sini. Saya mendapatkan kenyataan yang agak sedikit tidak sesuai dengan lingkungan desa plosok. bagaimana tidak?? melihat seorang siswi yang mengenyam pendidikan di SD pedesaan sangat akrab dengan gadget mahal. Dia tidak seperti teman-temannya yang asik bermain permainan yang butuh banyak gerak, seperti kejar-kejaran. sedangkan dia lebih suka menikmati tablet dan laptopnya.

Selain itu, bila teman-temannya berangkat sekolah bersama-sama dengan tanpa diantar oleh orang tua, sedangkan dia agak sering diantar jemput oleh keluarganya. Suatu ketika saya mendapati seorang wanita berusia layaknya ibu-ibu berpakaian tidak sewajarnya sebagai “wong ndeso” dan berdandan layaknya artis ibu kota datang kedepan kelas V untuk menjemput siswi yang saya maksudkan tadi. Melihat kejanggalan ini, saya langsung menanyakan “siapa dia?” kepada seorang guru senior di sekolah praktik, sebut saja namanya pak adang. Sangat mengejutkan jawaban pak adang, “dia saudaranya Anisa Bahar pak”. Seketika hanya bisa menelan ludah, saking kagetnya.

Dari sini saya menarik kesimpulan yang bisa dikatakan dangkal bahwa di lingkungan pedasaan (read plosok) seperti ini ada aroma-aroma artisnya, bagaimana dengan di perkotaan? hem,, kesimpulan ini tidak hanya berdasar pengalaman pribadi saya. Baru beberapa saat lalu bogor usai melaksanakan pesta demokrasi PILKADA. dari kandidat-kandidat yang ada, saya tertuju salah seoang komedian Akri yang juga ikut meramaiakan. Lalu, saya juga teringat seorang artis asal bogor yang populer di Taiwan, Margareth Wang. Selain itu ada Syahrul Gunawan juga yang berasal dari bogor. Karena inilah mengapa sebutan Kota artis melekat pada Bogor.

Dengan seiring bergantinya zaman, sebutanpun bertambah. Kota seribu angkot sangat akrab ditelinga orang ketika mendengar tentang Bogor. Sangat kaget ketika melihat dengan mata kepala sendiri kondisi lalu lintas di sini yang begitu padatnya.

Penyebab dari kondisi ini tidak hanya oleh kondisi jalan yang relatif sempit dan pengguna jalan tidak tertib semata. Keruwetan ini juga disebabkan oleh begitu banyaknya ankot yang beroprasi di Bogor. Bahkan tidak hanya seribu, berdasarkan data Organda 2012 terdapat sekitar 3.412 angkot yang beroperasi di wilayah Kota Bogor.(cited from republika on line) Sehingga sudah sewajarnya jika kondisi jalan sangat semrawut. Dimana mata memandang, disitu terlihat angkot. 🙂

Sebelum saya menjajakan kaki di Bogor, saya sangat mengeluhkan kondisi lalu lintas kota Semarang, kota singgah perantauan yang sudah cukup lama saya tinggali. Dengan tinggal di dekat jalan utama sebagai akses jalan menuju Jakarata, saya bisa merasakan betapa semrawutnya lalu lintas. Terlebih ketika saya berada di pertigaan jerakah hingga bunderan Kali Banteng. hem,, ternyata itu belum ada apa-apanya dibandingkan di sini. Jadi sempat agak menyesal, 😦

Apapun itu, kenyataannya saya sekarang tinggal disini (sementara)  mengeluh dan menyesal bukan tipikal saya atas pilihan yang telah ditentukan. Selalu menikmati setiap langkah perjalanan dan mengambil hikmah adalah sebuah keharusan yang saya lakukan. Inilah proses pembelajaran kehidupan yang saya jalani bersama Bogor dengan ke “khasan” nya. 🙂

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Bogor, SGI (Sekolah Guru Indonesia), uneg-uneg dan renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to BOGOR: DARI KOTA HUJAN, KOTA ARTIS, HINGGA KOTA SERIBU ANGKOT

  1. welovyou_id says:

    i like your closing statement, that’s right, life is a journey which there is learning process to achieve the future. so we have to enjoyed every single step in our life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s