Fenomena Penggunaan Dwi-bahasa yang “GEJE”

IMGP0148

Minggu tanggal 25 Agustus 2013 kemarin, saya memutuskan untuk mengisi liburan dengan berpergian keliling kota Bogor seorang diri. Sembari melakukan perjalanan, saya mengamati pemandangan sepanjang jalan yang serba dihiasi papan baliho yang sayang untuk dilewatkan. Diantara baliho-baliho tersebut, ada satu yang menggoda saya. Lalu saya abadikan dengan kamera saku yang selalu saya bawa saat jalan-jalan.

Baliho tersebut adalah baliho dari sebuah toko roti yang letak pastinya saya tidak tahu nama lokasinya. Pada baliho ini, tertuliskan nama tokonya srta barang yang dijualnya. Sebenarnya baliho jenis ini sangat lumrah dijumpai. Namun, ada satu hal yang menggoda saya untuk membahasnya lebih jauh. Hal tersebut adalah praktik penggunaan dwibahasa yang dituliskan, yang belum jelas maksudnya. Menurut kacamata saya, ada beberapa hal yang bisa dimaknai disini.

Pertama, praktik penggunaan dwibahasa tersebut bisa dimaknai sebagai kesiapan kita menyambut pasar global di abad ini. hal ini bukanlah tanpa alasan. Seiring makin mudahnya akses komunikasi, maka mudah pula orang saling berhubungan satu sama lain. Dengan didukung kemajuan teknologi internet yang sangat memanjakan semua penggunanya, sehingga sangat wajar jika saat ini semua orang bisa dengan mudah melakukan komunikasi dengan orang yang berasal dari lain negara atau bahkan benua. Tambah lagi, soasialisasi mengenai ASEAN community 2015 semakin gencar digalakkan dimana-mana. Jika kelak masyarakat negara-negara ASEAN yang notabene tidak memiliki latar belakang kesamaan bahasa saling berkomunikasi, mereka akan merasa kesulitan. Oleh karena itu, mereka butuh “lingua franca” yang membantu mereka dalam berkomunikasi. Tapi kenapa musti ENGLISH? Bahasa Inggris adalah bahasa yang sudah populer di Dunia ini. Sehingga, pemakaian bahasa inggris sebagai bahasa perantara bertujuan untuk memudahkan semua orang berkomunikasi satu sama lainnya.

Kedua, saya mengartikannya sebagai cerminan karakter orang yang “membuat” baliho tersebut. saya bisa menyimpulkan, orang yang menuliskan bentuk seperti ini biasanya dia termasuk kategori orang yang tidak konsisten, tidak teguh pendirian dls. Itu semua bisa terlihat, dari tulisan yang cukup singkat, mengapa musti ada penggunaan dua bahasa yang berbeda padahal baliho yang berisi hanya identitas toko saja?

Ketiga, saya memaknai praktik ini sebagai tamparan keras bagi kita semua, khususnya saya, akan rasa “nasionalisme” yang semakin memudar. Masih teringat betul isi sumpah pemuda, yang salah satu isinya adalah “berbahasa satu bahasa indonesia”. Jadi, menggunakan bahasa indonesia untuk berkomunikasi bagi kita semua merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Jikalau, soal penggunaan b.indonesia untuk berkomunikasi sebagai bentuk nasionalisme masih “geje”, bagaimana dengan aktualisasi nasionalisme lainnya? saya sejujurnya agak risih melihat menggunakan bahasa asing sebagai bumbu campuran untuk berkomunikasinya. Contoh rilnya adalah ketika kedua orang atau lebih yang semuanya berasa dari Indonesia, saling berkomunikasi, ngobrol satu sama lain. Misal, penggunaan kata ganti dengan bahasa asing contoh: I, YOU,dls. dari bahasa inggris. ANA, ENTE, ANTUM, dls. Anggapan saya, mereka itu perlu dipertanyakan rasa nasionalismenya. Kalau diniatkan untuk belajar, otomatis mereka ngomong menggunakan kosa kata bahasa asing tidak parsial, tapi total. Sering saya menjumpai orang-orang seperti ini. Ketika bertemu, saya langsung ajak mereka ngobrol dengan menggunakan bahasa inggris atau bahasa arab. Dan jawaban dari kebanyakan mereka adalah “maaf gw ga paham maksud lho”. Entah apa motif mereka berlaku seperti itu. Apakah dengan menggunakan campuran bahasa inggris dari apa yang dibicarakannya lebih membuat mereka lebih “modern”? Apakah dengan menggunakan campuran bahasa arab membuat mereka terkesan lebih “islami”?

Ringkasnya, pada saat melakukan apapun harusa ada niat yang jelas. Termasuk ketika praktik menggunakan bahasa asing. Fungsi awal dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi, yang bisa mempermudah kita semua berhubungan satu dengan yang lain bukan sebagai “gaya-gayaan”.

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in My Opinion, Opini saya and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Fenomena Penggunaan Dwi-bahasa yang “GEJE”

  1. ahmadlizam says:

    om dedy,, maturnuwun sudah dilike…… 🙂

  2. Kadang juga, ada penggunaan bahasa yang memang kesan yang diciptakan beda dengan terjemahannya. Misalnya, ‘panjenengan’, atau ‘nggih’ atau ‘mboten’, untuk sesama orang Jawa, arti literalnya memang bisa terwakili, tapi kadang makna sosialnya tidak terwakili.

    • ahmadlizam says:

      hem,, seperti itu ya,, ternyata kalau agak diperhatiakan lebih dalam, ada aja yang bisa diangkat mengenai masalah yang berkaitan dengan bahasa. namun, kebanyakan orang sering menganggap sepele akan hal ini,, 🙂

  3. ahmadlizam says:

    bu nita dan bk puput, terimakasih like nya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s