BELI BUKUNYA! JANGAN FOTO KOPI!

Oleh: Ahmad Lizamuddin*

“Fotokopi masuk bui”. Ungkapan ini memang pantas menggambarkan keadaan dunia penerbitan umumnya, khususnya perbukuan. Banyak orang menganggap memfotokopi buku tanpa ijin merupakan hal biasa. Padahal secara undang-undang menilai, hal ini melanggar hak cipta yang dilindungi. Jadi, sangat lumrah jika suatu saat ada yang masuk penjara karena foto kopi.

Juli ini tepat satu tahun saya lulus dari jenjang pendidikan S1. Teringat betul kehidupan yang saya pernah rasakan sebagai rutinitas sehari-hari saat itu. Apalagi momen-momen terakhir untuk meraih gelar sarjana yang selalu bersinggungan dengan buku untuk menyelesaikan tugas akhir.

Saat menyelesaikan tugas akhir atau skripsi, saya sangat memerlukan banyak referensi, terutama buku. Untuk memenuhinya, jelas sekali saya ingat dengan memfotokopi halaman-halaman tertentu atau bahkan satu bendel buku. Hal ini saya lakukan bukan tanpa alas an. Saya melakukan ini karena kondisi saya, terutama kondisi keuangan.

Membahas soal teman akrab para mahasiswa ini memang tiada habisnya. Buku kadang menjadi kebutuhan yang musti terpenuhi bagi sebagian orang, khususnya mahasiswa. Untuk memenuhi kebutuhan tak khayal semua cara dilakukan. Seperti halnya soal makan-minum yang menjadi kebutuhan pokok manusia, sangat wajar jika berjuang keras untuk mendapatkannya. Begitupun buku, jika sudah menjadikannya sebagai kebutuhan, maka berbagai cara akan dilakukan untuk mendapatkannya. Mulai dari berburu dipasar-pasar loak, took-toko buku, bahkan jika kantong tipis fotokopi menjadi cara paling jitu.

Namun, di satu sisi fotokopi menguntungkan beberapa pihak sperti para usahawan fotokopi dan penikmat buku fotokopi pastinya, di sisi lainnya hal ini menjadikan penerbit merugi. Jika dibuat perhitungan missal seorang membutuhkan seratus buku. Dibuat mudah harga tiap bukunya seratus ribu rupiah. Untuk memenuhi kebutuhan, orang tersebut lebih memfotokopi yang hanya menghabiskan kurang lebih separuh harga dari harga bukunya. Itu baru satu orang, bagaimana jika sepuluh orang, seratus orang, satu juta orang? Bisa dibyangkan betapa meruginya penggiat usaha penerbitan.

Menjatuhkan pilihan ke fotokopi bukanlah tanpa alas an. Tidak mungkin seseorang lebih memilih kualitas hitam putih, terkadang hita buram, bahkan tulisannya tak terbaca daripada buku aslinya yang memiliki kualitas cetak nomor wahid.

Ada sebagian alas an mengemuka bahwa buku yang diperlukan adalah buku-buku kawakan yang sudah tidak beredar lagi dipasaran. Memang semua orang tahu ada pilihan untuk meminjam di perpustakaan, baik tingkat kampus, kecamatan, kabupaten, kota, wilayah, atau bahkan nasional. Belum tentu buku yang dicari ada. Tambah lagi, kalaupun ada statusnya hanya sebagai peminjam bukan pemmilik. Jelas sekali, hal ini lah yang menyebabkan fotokopi menjadi primadona sehingga keinginan untuk memiliki buku bisa terpenuhi.

Alas an lainnya yang menjadikan alternative fotokopi adalah isi kantong. Dari permisalan rincian singkat yang telah disebutkan sebelumnya, sangat jelas sekali kebanyakan orang akan lebih memilih untuk membayar dengan separuh harga bisa mendapatkan isi buku yang sama meski kualitasnya sedikit berbeda. Tidak ada alas an lain untuk berdalih yang dilakukan banyak orang selain berpikir berulangkali untuk membeli buku dengan memprioritaskan kebutuhan utamanya, missal makan-minum untuk keberlangsungan hidup. Lebih-lebih para mahasiswa yang kebanyakan memiliki isi kantong pas-pasan lebih memilih menggunakan fulusnya untuk memenuhi kebutuhan primernya seperti bayar kos dan menyambung hidup atau kebutuhan urgen lainnya ketimbang beli buku asli.

Menghadapi keadaan seperti ini bagai makan buah simalakama. Dengan menjadi idealis untuk tetap membeli buku asli, meski dengan harga selangit maka secara tidak langsung para konsumen berterima kasih dan menghargai sumbangsih penulis beserta yang terlibat dalam penerbitan secara layak. Akan tetapi jika menuruti idealisme yang ada, keeseokan harinya para mahasiswa kebingungan untuk melanjutkan hidupnya.

Menghadapi dilematis seperti ini mengundang banyak orang untuk mencarikan solusinya. Banyak yang berlomba-lomba untuk mengatasi persoalan yang pelik ini. Suatu ketika muncullah e-book sebagai suatu inovasi yang cukup solutif. Banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan khususnya secara harga jika dibandingkan dengan buku konvensional. Dengan logika, buku elektronik tidak memerlukan media cetak dalam hal ini  kertas sehingga, biaya produksi bisa berkurang dan akhirnya berdampak pada harga jual yang lebih murah.

Selain pertimbangan secara finansial, buku elektronik juga berdampak pada kelestarian lingkungan. Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya kertas sebagai media cetaknya. Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa kertas diproduksi dari bahan dasar batang-batang pepohonan di hutan-hutan. Semakin banyak kertas yang digunakan, maka semakin banyak pula hutan yang gundul dan pada akhirnya bisa memicu beragam bencana.

Logika ini tidaklah hanya bualan semata. Dalam rilis  Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional yang dikeluarkan bulan Desember 2012, sepanjang tahun ini Indonesia diguncang oleh 730 bencana alam dengan korban jiwa sebanyak 487 orang. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini menunjukkan jumlah kejadian bencana alam pada 2012 berkurang dari tahun-tahun sebelumnya. Jumlah pengungsi mencapai 675.798 orang dengan, 33.847 rumah rusak yang terdiri dari 7.891 rumah rusak berat, 4.587 rusak sedang, dan 21.369 rusak ringan. Bencana alam sepanjang 2012 didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, dan puting beliung. Sementara puting beliung mengalami peningkatan jumlah di tahun 2012.

Sudah jelas sekali apapun alasannya, sangat tidak etis jikalau kita sebagai penikmat lebih memilih fotokopi jika hanya mempertimbangkan kepentingan kita pribadi. Para penulis buku telah mencurahkan ide kreatifnya untuk kita semua. Sehingga, sangat wajar bila penghargaan yang layak diberikan kepada mereka. Hal ini dilakukan sebagai usaha selain mengapresiasi karyanya juga menstimulus mereka untuk berkarya lebih baik lagi. Selain itu, semisal buku konvensional dirasa kurang “aman”, penikmat buku bisa membeli ebook sebagai bentuk upaya pencegahan bencana.

 

*Penulis adalah pemerhati buku tergabung dalam forum pecinta buku Indonesia dan seorang mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan V

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in My Opinion, Opini saya and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to BELI BUKUNYA! JANGAN FOTO KOPI!

  1. anitadeka says:

    ebook juga ada,, foto copy jg byk,, disuruh sama dosen 😦

    • ahmadlizam says:

      wah itu bu,, memang masalah seperti ini dilematis sekali,, bagai makan buah simalakama… 🙂 selama kita “mampu” beli bukunya,, mari kita beli bukunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s