EDI NUGRAHA: “KETERBATASAN” BUKANLAH HALANGAN BERKREATIFITAS

 

 

Edi Nugraha, (lahir pada tanggal 14 Maret 1987) yang biasa akarab disapa pak edi adalah seorang karyawan dengan keterbatasan fisik dari Beastudi Indonesia bagian dari Jejaring Badan Pengembangan Insani yang berafiliasi pada lembaga amil zakat Dompet Dhuafa. Anak kedua dari lima bersaudara ini, lahir di sebuah desa kecil tanggung harjo, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah.

Dia memiliki latar belakang keluarga yang cukup prestisius di lingkungannya. Kakek dari keluarga ayahnya, bisa dibilang sebagai “Founding Father” atau “yang babat alas” desanya. Namun, itu tidak memberikan jaminan atas kemakmuran kehidupan keluarganya. Kakeknya memiliki tujuh anak. Dari ketujuh anak, semuanya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi kecuali sang bapak. Bisa diibaratkan seperti orang kaya raya yang hartanya tidak habis tujuh turunan, tapi bapaknya pak edi adalah turunan kedelapan.heheheh 😛 Sehingga dari sini sang bapak mempunyai tekad yang kuat supaya semua anaknya bisa mendapatkan pendidikan tinggi hingga tingkat perguruan tinggi. Iya dari tekad itulah pada akhirnya pak edi bisa merasakan kuliah. Tekad dalam bahasa al-qur’an disebut azam. Tertuang dalam surat alimron ayat 159 yakni “Faidza ‘azamta fatawakkal ala allah, innaallaha yuhibbul mutawakkilin”. Azamta disini fi’lun madli yang artinya disini sudah terlaksana kejadiannya. Artinya disini tawakkal sebagai “final touch” setelah bekerja keras diiringi dengan doa supaya bisa mencapai cita-cita yang diinginkan. Yah, kombinasi aksi yang jitu untuk mengarungi kehidupan ini.

Meski memiliki latar belakang keluarga yang sederhana, hal ini tidak berpengaruh pada prestasi akademiknya yang tidak sederhana. Dia dikenal sebagai salah seorang yang memiliki reputasi bidang prestasi akademik. Salah satu bukti nyata adalah ketika dia lulus dari SLTA, dia sudah diterima oleh dua perguruan tinggi yang bonafit melalui jalur PMDK yang hanya bisa dilalui oleh segelintir orang dengan prestasi akdemik yang sangat baik. Dua perguruan tinggi tersebut yaitu UNS dan UGM. dua nama almamater yang selalu menjadi favorit bagi semua siswa untuk melanjutkan pendidikan.

Namun, pak edi lebih memilih UGM dengan memantapkan diri untuk mempelajari hukum di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Seiring berjalannya waktu perkuliahan, dia mengherankan ketidak minatannya untuk belajar hukum lagi. Dia menjalani studinya dengan setengah hati. Hal ini dikarenakan dia lebih menemukan passion untuk beraktifitas dalam kegiatan-kegiatan yang berbasis kemasyarakatan. Apa yang dipilihnya, bukanlah hanya keinginan sesaat yang sewaktu-waktu bisa berubah. Bukti keseriusannya menekuni pemberdayaan masyarakat salah satunya adalah terbentuknya forum pengajian karyawan Bank Mandiri seluruh jogja. Bukti lainnya, adanya aktifitas yang produktif di lingkungan Gunung Kidul dengan program pemberdayaan masyarakat petani disana.

Ditengah perjalanan studinya di UGM, tepatnya di tahun kedua, dia bersama temannya mengalami kecelakaan sepeda motor. Dia yang mengalami luka parah, yakni patah lengan kanan yang mengakibatkan saraf-saraf terputus sehingga tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya lagi hingga saat ini. Dia sangat terpukul akan keadaan yang dianggapnya ini seperti mimpi terburuk. Tambah lagi, saat itu adalah saat ujian akhir semester. Kurang lebih sepekan dia benar-benar terpuruk. Ketika dia bisa memejamkan mata untuk tidur, sering dia berharap tidak bangun lagi keesokan harinya. Akan tetatpi, keluarga, teman, dosen, dan sahabatnya tiada henti memberikan motivasi untuk tetap tegar dan bangkit melanjutkan hidup. Hingga pada suatu ketika dia tersadar akan hikmah atas peristiwa yang terjadi padanya. Salah seorang dosen memberikan hasil nilai ujian akhir semester yang menyatakan dia lulus semua mata kuliah yang diambil meski tidak mengikuti ujian tersebut. Di sinilah momen saat terhentak hatinya membulatkan tekad akan keyakinan bisa menjalani hidup sebaik-baiknya. Dia mempunyai asumsi bahwa jika dia menyerah, maka tidak ada bedanya dia dengan para pengemis cacat di pinggir jalan yang bermodalkan ekspresi muka “melas” bergantung rasa kasihan orang lain. Sungguh sangat risih melihat keadaan keadaan ini.

Dua hal yang paling bisa membuat dirinya bangkit adalah keluarganya dan janji Allah kepada hambanya yang sangat jelas sekali “Fa inna ma‘al ‘usriyusraa. Inna ma’al ‘usriyusraa”.

Semua ulama’ sepakat menafsirkan kedua ayat diatas yang menyebutkan bahwa ayat ini diawali dengan huruh fa (fa-inna ma’al ‘usri yusran) untuk menunjukkan adanya kaitan antara kedua keadaan tersebut, yaitu antara timbulnya kesulitan dan datangnya kemudahan. Digunakannya kala Al sebelum kata Usri dalam kalimat (fa-inna ma’al ‘usri yusran) memberikan makna khusus, yaitu segala macam kesulitan yang mengantarkan pada kebaikan bukan kesulitan untuk menjalankan maksiat. Misalnya kesulitan berupa kemiskinan, kelemahan, pengkhianatan, musibah pokoknya apapun kesulitan yang lumrah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Jenis kesulitan apapun pasti dapat ditanggulangi, sepanjang orang yang menghadapi kesulitan tersebut memiliki jiwa yang kuat dan istiqomah untuk mencari solusinya, menggunakan akal pikiran semaksimal mungkin serta berdoa dan tawakkal kepada Allah swt.

Singkatnya kedua ayat ini mengajarkan bahwa setiap menghadapi berbagai kesulitan, kita harus yakin bahwa akan ada penyelesaiannya, akan ada jalan keluarnya. Keyakinan ini merupakan energi yang sangat berharga untuk bisa menyelesaikan segala persoalan. Dari jiwa yang penuh rasa optimis akan lahir kecerdasan dan kearifan. Konsepsi ini serupa dengan kata bijak yang berbunyi “habis mendung, maka terbitlah terang terang”. Karenanya Allah swt. menegaskan dengan kalimat yang berulang-ulang, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”.

Pengulangan ini dimaksudkan agar kita benar-benar yakin bahwa saat menghadapi kesulitan, sesungguhnya pada waktu yang bersamaan kita pasti akan bisa menemukan solusinya asalkan kita memiliki jiwa yang kuat, berpikir keras, ikhtiar yang sungguh-sungguh dan maksimal, serta berdoa kepada Allah swt.

Dia merasakan titik balik yang sangat berharga dimana dia bisa tegak kembali menatap kehidupan. Mengembangkan “layarnya” menuju dermaga impian dan cita-cita.

Setelah menuliskan perjalanan hidup pak edi, saya langsung teringat dua orang hebat yang memiliki keterbatasan fisik namun bisa berhasil menggapai cita-cita kesuksesannya. Orang pertama adalah Nicholas James Vujicic (lahir 4 Desember 1982) adalah seorang penceramah gereja, seorang pembicara motivasi dan Direktur organisasi nirlaba LIfe Without Limbs. Lahir tanpa anggota badan karena gangguan Tetra-amelia langka, Vujicic harus hidup dengan kesulitan dan penderitaan sepanjang masa kecilnya. Dan seorang lainnya adalah Irma suyanti, pengusaha yang memiliki kaki lumpuh akibat polio berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Dengan dibantu oleh suaminya yang juga penyandang cacat, mereka tetap bisa sukses menggapai impiannya meski dengan keterbatasan.

Hem,, memang agak sedikit “berlebihan” jika menyandingkan Pak Edi dengan Nick Vujicic ataupun dengan Irma Suyanti yang mereka notabene memiliki keterbatasan cacat fisik. Namun, masing-masing bisa mampu menggapai impian. Satuhal yang menjadi kesamaan mereka adalah rasa semangat dan pantang menyerah atas keadaan kehidupan. “Keterbatasan bukanlah halangan untuk berkarya dan berkreatifitas” cetus pemuda visioner asal Grobogan ini.

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s