Di balik makna (kegilaan) bergabung SGI

Jujur, Aku sebenarnya tidak pernah menargetkan atau merencanakan bakal menjadi bagian dari Sekolah Guru Indonesia. Aku tahu program ini sekitar 2 bulanan yang lalu, saat aku membuka akun facebook dan sekedar mengecek sebuah info yang berupa link dari group fb yang ku ikuti. Ternyata, sebuah info mengenai pengabdian, dengan mengajar di daerah pelosok negeri ini. Setelah itu, aku sering melihat  informasi tentang program serupa, seperti Indonesia Mengajar dan SM3Tdari internet, televisi, dan rekan-rekan yang ada. Sebenarnya, di awal tahun 2012, ketika aku memasuki masa akhir skripsiku aku mulai tertarik dengan program ini. Dan ketertarikan itu mengubah semuanya. Ya, aku pernah mendaftar jadi calon Pengajar Muda angkatan VI, dengan hasil tidak diterima. Api niat untuk mengabdi tidak padam karena kegagalanku. Lalu, aku putuskan untuk mendaftar program SM3T, namun, kendala administratiflah yang menghalangi untuk mendaftar program ini, hanya karena universitasku bernaung dibawah bendera DIKTIS bukan DIKTI. Setalah hampir setahun ku menunggu, sekarang aku diberikan kesempatan untuk mewujudkan “hirah” yang sudah terpatri kuat di hati. “ud’uni istajib lakum” selalu menjadi dasarku untuk tidak ragu akan kuasanya mengabulkan azamku ini. Akhirnya bersama Sekolah Guru Indonesia angkatan V ku mengukir asa untuk membangun negeri ini. Memang, Pencapain ini tidak aku rencanakan secara matang dari yang ku targetkan diawal dimana IM menjadi target utamaku. Karenanya, aku mulai sering merenung dan berpikir, apakah arti dari pencapain ini?Apa makna menjadi SGI ynag belum begitu populer?alias akan menjadi guru SD atau MI selama satu tahun di pelosok Indonesia?meninggalkan pekerjaan yang sudah susah payah ku dapatkan bersaing dengan banyak orang untuk menjadi pengajar di tingkat perguruan tinggi, meninggalkan keluarga? Kedengarannya tidak se-wah memang dibandingkan dengan pekerjaan di kota, bank, kantor, atau pun CPNS yang notabenya ada jaminan materi lebih baik. Wkwkwkw haaaa

 

Awal mula ketertarikan itu bermula karena aku merasa perlu untuk memberikan sesuatu yang bermakna dan nyata kepada sekitarku sebelum aku benar-benar mencapai kemapanan nanti. Aku ingin meninggalkan jejak yang berarti bagi negara dan masyarakat ini dengan memberikan apapun yang aku bisa. Idealisme tinggi selama kuliah ternyata masih terbawa dalam diriku hingga kini. Aku ingin berkontribusi untuk negeri kelahiranku. “khoirunnas anfa’uhum linnas” meski hadits ini dhaif, yang notabenya tidak bisa dipakai untuk pengambilan dasar hukum, namun, bagiku ini mendorong manusia untuk tidak hanya menjadi soleh secara ritual tapi juga soleh secara sosial. Dan ketika aku berhasil melakukannya, aku akan sangat puas sekali. Ada kepuasan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika kita berhasil melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain. Aku ingin sedikit menolong masyarakat di pelosok sana agar dapat melek dunia, agar anak-anak penerus bangsa di pelosok negeri juga mempunyai mimpi besar sebesar anak-anak di pusat kota.

 

Tambah lagi, aku juga sangat minat tentang apapun yang berbau inspirasi. Aku ingin menginspirasi mereka biar mereka mempunyai mimpi yang akan mereka perjuangkan. Motivasiku bergabung SGI yang ku ungkapkan sejak tahap interview  adalah sebagai manifestasi rasa syukurku. Rasa syukur atas semua nikmat yang sudah ku peroleh. Khususnya, rasa syukur karena selama ini aku hidup bergelimang kemudahan. Gelar sarjana yang ku peroleh adalah sesuatu yang sangat bernilai di keluarga yang tinggal di pedesaan sepertiku, aku ingin melakukan sesuatu dengan gelar ini sebagai rasa syukurku kepada Tuhan. Nikmat yang lain yang pernah ku dapatkan yaitu kesempatan pernah mengenyam pendidikan di negeri adidaya, Amerika Serikat yang tidak semua orang peroleh.

Ketika saat mengisi formulir aplikasi, motivasi itu tidak sedalam saat ini, namun, setelah dinyatakan diterima mulai tahap interview hingga pembekalan saat ini, motivasi dan niatku sudah bulat meskipun ada beberapa hal yang kurang enak yang aku dengar dari lingkunganku. Mulai dari tetanggaku hingga teman-temanku yang menganggap aku “tidak waras atau bahkan gila.”

 

Salah seorang temanku, mengatakan jika orang-orang memilih program pengabdian sperti SGI, IM, atau SM3T adalah bentuk ketidakwarasan alias mereka adalah orang yang tidak waras. Aku cukup setuju dengan perkataan temanku itu, karena ini adalah jalur hidup yang tidak biasa bagi kebanyakan sarjana atau bahkan manusia. Jadi guru SD di pelosok?, mati aja lah.. ato apalah… Begitu mungkin kebanyakan orang menilai pengabdian seperti ini. SGI itu tidak waras? ya memang. Paradigma pada umumnya yang normal atau waras adalah setelah sarjana ya mencari pekerjaan di kota, diperusahaan besar, bergaji tinggi, dan seterusnya. Jadi, menjadi mahasiswa SGI memang (sedikit) tidak waras. Setuju?? Haaaa anjrit…

 

Bahkan ketika aku dirumah dan ditanya tetanggaku, aku mengalami kesulitan untuk menjelaskan tentang Sekolah Guru Indonesia dan apa sejatinya tugas yang akan ku emban. Supaya gampang, akhirnya aku sering mengatakan kepada orang yang bertanya kepadaku bahwa aku akan menjadi guru SD di daerah terpencil yang serba sulit aksesnya. Mereka kemudian akan bilang “oohhh, guru SD”. Sering setelah itu aku pun tersenyum kecil mendengar jawaban mereka sambil menganggukkan kepala khas budaya jawaku. Aku sering menebak apa yang dipikirkan mereka mendengar jawabanku?. Respon mimik muka yang mereka tunjukan sepertinya bisa memberi petunjuk jika mereka heran mengapa cuma jadi guru SD di daerah terpencil. Gak berkelas blass. Lulus kuliah dan jadi sarjana kok malah cuma jadi guru SD di pelosok?, mungkin begitu pikir tetangga-tetanggaku ini. Bahkan, salah satu pamanku bilang “wis enak-enak dadi dosen, malah milih guru SD”(udah enak-enak jadi dosen kok malah milih menjadi guru SD). Budeku juga tak mau ketinggalan berkomentar “nek kuwe lungo-lungo terus, nikahmu kapan le? Opo orak ketuwan?” (kalau kamu pergi terus, nikahmu kapan? Apa gak terlalu tuwa). Kira-kira apa juga ya tanggapan bapak dan ibuku sesungguhnya? Entahlah, semoga mereka berdua benar-benar 100% ikhlas dengan pilihan gila anaknya yang satu ini. mari kita lihat saja nanti…. 🙂

 

Seharusnya, dengan kendala atau kekhawatiran diatas hanya ada sedikit yang mau mendaftarkan diri untuk program ini. Namun, sebaliknya, ada banyak alumni mahasiswa strata satu mendaftar dan semakin menyusut jumlahnya di setiap tahap tes hingga hasil akhir hanya diperoleh 30 pejuang pendidikan. Hemmm,, apakah mereka semua sama-sama gila juga ya???

 

Menurutku, ini memberikan bukti bahwa Allah swt tidak ridho buminya rusak. Melalui anak-anak muda Indonesia, sarjana Indonesia masih banyak yang peduli dengan kondisi bangsa ini. Mereka lapar nan dahaga akan ruang dan kesempatan untuk menyalurkan kontribusi nyata mereka kepada bangsa dan negara tercinta. Ini juga bukti bahwa anak muda Indonesia tidak cuma pandai beretorika dan berdebat wacana semata, tapi mereka juga mau untuk bersusah payah turut serta memajukan dan membangun negara ini. Mereka tidak cuma bisa menonton dan menikmati gelar sarjana mereka, tapi mereka sebenarnya mempunyai motivasi besar untuk mengabdikan diri untuk tanah airnya. Alhamdulillah, masih banyak orang yang benar-benar mencintai tanah air Indonesia ini.

Sekarang, budaya yang harus dibangun dikalangan muda Indonesia adalah bukan lagi jamannya mencari kambing hitam atau mengutuk keadaan, tapi saatnya bergerak melakukan sesuatu yang nyata untuk perbaikan bangsa dan negara.

 

Ya, menjadi seorang guru SGI tidak hanya tentang pengabdian namun juga adalah tentang kehormatan. Kerhormatan karena kita adalah segelintir anak muda Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk membantu memangku bumi pertiwi ini agar dapat berjalan dengan kokoh bahkan berlari menyongsong masa depan yang sangat cerah. Meskipun tidak hanya melalui Sekolah Guru Indonesia ini kita bisa memberi kontribusi untuk negeri, tetapi menjadi bagian dari SGI artinya kita telah bergabung dalam barisan pasukan gagah berani yang memperjuangkan kejayaan bangsa dan negara.

 

Aku sangat sepakat apa yang disampaikan oleh pak Asep Sapa’at pada saat orientasi, “menjadi guru adalah investasi untuk Indonesia”. Melalui sentuhan tangan-tangan gurulah akan lahir penerus-penerus bangsa di masa yang akan datang supaya bangsa ini menjadi bangsa yang baik. Oleh karena itu, beruntunglah kita yang memilih jalan ini, semoga ALLAH memberikan petunjuk jalan kebenaran serta membuka pintu rahmat ampunannya selalu kepada kita. Begitu juga aku berdoa semoga ALLAH senantiasa menunjukan jalan kebenaran dan kebaikan dalam setiap jengkal perjalanan hidupku untuk berkontribusi membangun negeri ini. Amin.

 

Bagaimanapun, ini adalah sebuah bakti pada negeri yang seharusnya tidak ada keraguan atau perlu diragukan. Menjadi guru SGI adalah tentang nilai-nilai, bukan cuma tentang profesi.

 

Bangga menjadi Guru

Guru Berkarakter

Menggenggam Indonesia

Saya bisa, saya bisa, saya bisa.. Insyaallah..

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in SGI (Sekolah Guru Indonesia). Bookmark the permalink.

One Response to Di balik makna (kegilaan) bergabung SGI

  1. buseri says:

    kreeennnn…..inspirasi bwt saya pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s