“Sujudku di fajar Blacksburg”

Hari ini adalah hari ke-2 setelah kedatanganku di bumi paman sam. Masih diselimuti jetlag yang melekat,aku terbangun dari tidurku berulang-ulang. Namun, di bangunku yang terakhir aku putuskan untuk tidak tidur lagi. Ku lihat jam dinding di kamar baruku menunjukkan pukul 2.00 am. Sangat pagi sekali memang. Setelah duduk terdiam beberapa saat, aku memutuskan beranjak dari tempat tidurku. Aku berjalan keluar kamarku menuju dapur untuk mengambil minum. Segelas air ku minum untuk menghilangkan dehidrasiku akibat dari tidur tak sehat. Kemudian, ku buka kulkas untuk mengambil makanan kecil sebagai ganjal perutku yang mulai protes. Setelah itu, Aku kembali kekamarku dan membuka laptop untuk membuka emailku. Iseng-iseng aku cari tahu info temperature udara di luar rumah saat itu minus 5 derajat celcius. Kaget, itu lah yang ku rasakan saat itu. Kenyataan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

Hangat,

Meski hanya mengenakan sarung dan kaos oblong pendek, aku tetap bisa merasakan suhu hangat di dalam rumah yang dipanasi mesin penghangat ini.

Dari yang telah ku lakukan untuk mengisi terjagaku, rasa bosan mulai ada. Aku putuskan untuk keluar rumah. Ku coba buka sedikit saja pintu depan, hawa dingin langsung menyerangku tiada ampun. Ku ambil jaket tebalku yang berwarna hijau. Aku sudah siap untuk keluar rumah.

Grr…. Benar-benar dingin sekali…. Akan tetapi sungguh aku menikmati ketenangan yang luar biasa. Aku bisa merasakan seakan alam semesta saat itu sangat khusuk bertasbih. Memuja dan mengagungkan kebesaran asmanya dengan segala kesunyian yang ada. Alam sangat terasa lepas tiada berpaling ke yang lainnya untuk selalu memujanya. Seakan keheningan fajar itu telah menyatu bersama tangis renungan segala makhluk yang dipenuhi rasa rindu kepada tuhannya. Ku tengok pohon-pohon di halaman rumah tempat tinggalku,terlihat tetesan-tetesan embun pun mulai turun, mengabarkan kabar-kabar  rahmat bagi tangan-tangan yang menengadah di sepertiga malam yang begitu mulia ini.

Sayup hembusan angin hampir  tiada terdengar. Hanya hawa dingin yang sangat menusuk mulai membelai tubuhku yang telah terselimuti jaket tebal. Sungguh tak pernah kurasakan hawa dingin seperti ini. Saat ini, memang kenyataan yang ku alami ketika ku menyambangi negeri ini.

Ya Allah gusti,,,apakah ini nikmat dari mu atau ini cobaan darimu??

Hanya tasbih yang bisa kulantunkan dengan suara lirih perlahan dari mulutku. Ku arahkan pandanganku menuju langit. Sungguh alangkah cerahnya langit malam itu. Taburan bintang tampak sangat jelas menghiasi di permukaan langit tanpa tertutupi awan.  Sesekali diantara mereka ada yang berjalan pelan, juga sesekali terlihat seolah berjatuhan.

Memang suasana seperti ini tidaklah begitu asing bagiku. Aku terbiasa mengalami hal ini ketika ngelilir dari tidurku di Musola. Teras Musola hidayatullah menjdai saksi lamunan serta renunganku ketika aku ngelilir di waktu fajar.

Pada waktu ini, aku terbiasa mendengar suara ayam jantan berkokok bersautan, seolah mereka ingin mengabarkan fajar yang penuh berkah. Akan tetapi, suara kokok ayam tak lagi bisa menemaniku jika terbangun di waktu fajar selama aku tinggal di negeri ini.

Setelah ku rasa cukup menikmati suasana luar rumah di waktu fajar, aku kembali masuk rumah. kemudian ku menuju kamar mandi. Dengan segera aku buka keran shower untuk mengambil air wudlu. Agak berbeda dengan kebiasaanku memang. Air wudlu dapat ku ambil dengan mudah dengan keran khusus wudlu ketika di musola. Meski, agak sulit, aku harus membiasakan diri menggunakan apa yang ada selama di sini.

Setelah selesai dengan wudluku,  aku langsung beranjak menuju lemariku untuk mengambil sajadah dan sarung.

Ku gelar sajadah ke arah seadanya. Memang aku belum mengetahui arah kiblat di sini. Langsung ku dirikan solat sunnah dua rakaat. Kemudian setelah selesai, ku lanjutkan berdzikir dengan bacaan dzikir yang sudah biasa ku lakukan setelah solat.

Seketika stelah selesai dzikir, ku tengadahkan kedua tanganku memohon kepada gusti Allah:

“ya allah, betapa hamba ini belum sempurna di sisimu hingga detik ini, betapa kekurangan sebegitu penuhnya atas hamba. Dosa-dosa hamba yang menggunung selalu memenuhi setiap langkah hamba hingga saat ini. Engkaulah maha segalanya ya rab, engkau maha sempurna, engkau maha pengampun, engkaulah sang pemilik segalanya yang hamba miliki saat ini. Jauhkan ujub dan ketakaburan dari hati hamba ya rab. Atas kehendakmulah semua dosa hamba bisa terampuni. Ya rabbi, tunjukkanlah jalanmu, agar hamba mampu berjalan di jalanmu yang selalu engkau ridhoi. Atas izinmu, atas segala kuasamu ya allah, agar apa yang hamba peroleh dapat membimbing hamba menuju kebaikan. Amin,,”

3460 Happy Hollow Rd

Blacksburg, VA

2460-873

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in uneg-uneg dan renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s