“DOA SANG PENGAMEN MENEMANI PERJALANANKU”

Aku melihat jam tanganku sudah menunujukkan pukul 13.20. aku harus bersiap-siap untuk mandi, dls. Sebelum mandi, aku cari hape nexianku yang selalu setia menemaniku. Setelah ku temukan, ku ketik SMS “Pip, q ni gi persiapan, terus berangkat” kemudian langsung ku kirimkan ke afif. Setelah selesai, ku langsung beranjak menuju kamar mandiku yang terletak disebelah utara musola. Kemudian ku lanjutkan dengan persiapan lainnya, menggantti baju, packing, dls setelah selesai mandi.

Setelah siap, ku langsung beranjak untuk meninggalakan musola, tempatku tinggal ini. Langkah demi langkah ku lakukan untuk menuju pemberhentian bus di Jrakah. Sesuai dengan nasehat rekanku, zumdi yang terngiang ditelingaku ketika perjalananku ke Jrakah, ”kalu mau ke jogja, mending ngebus dari jrakah ke banyumanik, kemudian dari sana, baru naek bus ke Jogja. Itu lebih efisien daripada musti ke Terboyo terlebih dahulu.” Setelah tak terasa berjalan kaki selama kurang lebih lima menit, akhirnya aku sampai juga di pertigaan Jrakah. Setelah sampai disana, ku langsung membuka kantong kecil di tas punggungku, untuk memastikan ku membawa uang recehan untuk diberikan kepada pengamen di perjalananku nanti. Setelah ku mengecek, ku pastikan ini akan cukup.

Memang sudah kebiasaanku untuk membawa uang recehan kemanapun jika ku pergi menggunakan transportasi bus. Terkadang bagi sebagian teman-temanku, kebiasaanku selalu member uang recehan kepada pengamen adalah sebuah keanehan. Mereka mengira, dengan meberikan pengamen uang, akan memfaasilitasi para pengamen untuk tetap seperti itu. Teman-temanku menganggap, bahwa keberadaan para pengamen di jalan, merupakan akibat dari kemalasan mereka sendiri, dengan tidak mau untuk bekerja dengan usaha mereka tanpa menjadikan jalanan sebagai lahan yang menguntungkan. Teman-temanku beranggapan dengan apa yang ku lakukan akan melanggengkan mereka untuk tetap menjadi “pengamen”.

Berbeda dengan teman-temanku yang menganggap dengan apa yang ku lakukan adalah sebuah keanehan, aku memandang hal itu adalah sebuah hal yang positif. Dengan ku memberi, aku berharap ini akan membantu meringankan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan logika yang menjadi pedomanku bahwa jika aku memberi mereka uang recehan kisaran sebesar seratus rupiah hingga seribuan rupiah, aku tidak akan langsung jatuh miskin. Dan mereka tidak pula langsung menjadi kaya dengan uang sebesar itu. Terlalu tega memang jika berpikir sebaliknya. Jika boleh memilih, aku yakin seratus persen dari seluruh penduduk di dunia ini tidak akan mau hidup seperti itu.

Setelah menunggu selama sepuluh menit, datanglah bus yang ku tunggu dari arah mangkang. Sebelum naik, aku menanyakan kepada kondektur bus, “Banyumanik pak?”. Dan sang kondektur menjawab “iyo mas, langsung”. Tanpa berlama-lama, aku langsung masuk ke dalam bus dan ku menoleh kanan kiri di dalam bus untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tampaknya semua penuh. Dengan kondisi seperti itu, berdiri adalah pilhannya. Tak lama kemudian, terdengar teriakan khas, “YO!!!”. Ini menandakan jika bus sudah siap berangkat. Sambil berdiri, aku sering mengusap keningku yang berkeringat. Memang ku rasakan udara semarang saat itu begitu panas. Tak lama kemudian, sampailah bus untuk melewati “Kali Banteng”, suatu permasalahan khas tersendiri jika melewati jalan dengan bundarannya yang terkenal ini. Kesabaran yang luarbiasa harus sudah disiapkan untuk melewati jalan ini. Hal ini dikarenakan kemacetan yang panjang sudah menjadi rutinitas yang terjadi di jalan ini. Setelah busa melewati bundaran kali banteng, aku bersyukur sekali karena ada seorang penumpang yang turun. Langsung kuhampiri tempat duduk yang kosong itu, yang letaknya tepat dibelakangku ketika aku berdiri.

“Huft, akhirya duduk juga”, helaku. Dalam perjalanan menuju banyumanik, aku hanya berdiam diri sambil melihat dari jendela pemandangan hiruk pikuk kota Semarang. Tiga puluh menit berlalu tak terasa aku sudah sampai di banyu manik. “kiri pak!” teriakku. Aku langsung turun menuju lalu berjalan menuju halte pemberhentian bus. Aku lihat jam tanganku, waktu menunjukkan jam 15.30. berarti aku musti mencari tempat solat untuk menunaikan solat ashar. Aku mendapati tempat solat di tempat agen PO bus yang terletak tidak jauh dari halte. Di tempat yang berukurran 2×1 meter ini, aku menunaikan solat ashar. Setelah selesai menunaikan solat, akupun lanngsung beranjak menuju halte.

Sesampai di halte, tak berselang lama datanglah bus jurusan jogja. “Jogja, Jogja, Jogja!!!!” teriak sang kondektur. Setelah bis berhenti, aku langsung naik dan mendapati banyak tempat duduk yang masih kosong. Aku memilih duduk di kursi urutan kedua dibelakang supir. Tak berselang lama para penumpang mulai masuk dan memenuhi bus “SUMBER WARAS” ini. Sebuah tanda baik kalau bus akan segera berangkat.

Sembari menunggu perjalanan dimulai, aku membuka tasku untuk mengambil buku untuk dibaca. Sudah kebiasaanku membawa buku bacaan untuk mengisi perjalananku dalam berpergian. Semabri membaca, tak lupa pula aku mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan para pengamen disaat menunggu keberangkatan bus menuju jogja di halte banyumanik waktu itu.

Akhirnya, bus sudah mulai bergerak meninggalkan halte. Pengamen dengan gitarnya masih setia untuk menghiburku bersama penumpang lainnya. Kemudian kondektur memuulai kerjanya untuk mengumpulkan ongkos dari para penumpang. Silih berganti pengamen masuk bus seiring bertambahnya perjalanan bus ini. Rata-rata setelah dua lagu selseai mereka menyudahinya. Kemudian mengumplkan uang dari para penumpang. Aku memberi mereka uang recehan yang sudah aku persiapkan. Semua pengamen aku beri, tanpa ada yang ketinggalan. Tak ku sadari, ketika bis tiba di terminal amabwara sudah terhitung ada sepuluhan pengamen telah menemani perjalananku.

Kemudian, buspun melanjutkan perjalanannya menuju jogja. Aktifitas pengamen tiada hentinya menemani perjalananku. Dari sekian pengamen, aku sangat terkesan dari seorang pengamen ketika bus sampai di perbatasan awal masuk kota Boyolali. Pengamen itu menyanyikan dua buah lagu yang dpopulerkan band Dewa. Yang mebuatku terkesan bukanlah lagunya. Akan tetapi kalimat penutup yang diucapkan setelah selesai mengamen sebelum mengumpulkan recehan uang dari para penumpang. “sekian terimakasih, semoga anda dan tujuh turunan anda tidak mengalami nasib sama seperti seperti saya. Ikhlas anda senang bagi saya” ucap sang pengamen. Kemudian pengamen itu mengumpulkan recehan dari kursi depan ke belakang. Saat itu aku mengamati dari depan hingga belakang, hanya tempat duduk kedua yang ku duduki bersama dua orang disampingku saja yang memberinya uang. Lainya hanya mengangkat tangan setinggi dada dengan telapak tangan membuka. Hal ini sebagai tanda jika tidak mau memberi. Tak ku kira mereka setega itu.

Aku pandangi panorama alam melalui jendelaku sembari menyudahi membaca bukuku. Aku sungguh terkejut dengan apa yang aku alami saat itu. Sebuah peristiwa yang sangat tidak biasa dan janggal.

Aku berada dalam sebuah bus yang sepi penumpang. Hanya lima orang yang duduk didalam bus itu. Aku bersama empat orang lainnya. Buspun tetap melaju meski kosong seperti itu. Sebuah kejanggalan lagi ketika bus berhenti ditengah jalan untuk menaikkan penumpang yang berjumlah banyak dengan pakaian compang-camping yang mereka kenakan. Mereka berjumlah banyak sekali sehingga ketika mereka masuk ke dalam bus, seisi bus menjadi penuh karena mereka. Ku lihat ke belakang, dari mereka tidak ada yang duduk. Semua kursi selain yang ku tempati bersama empat orang disampingku tetap kosong.

Setelah mereka semua masuk, salah satu dari mereka memimpin untuk membuka dan mengutarakan maksud tujuan mereka. “permisi pak supir, pak kondektur, dan penumpang sekalian, kami semua disini mau ngamen, untuk menghibur anda sekalian.” Tak berselang lama merekapun mulai menyanyikan lagu-lagu. Sembari mendengarkan, aku mengamati wajah-wajah mereka. Dan ternyata mereka semua adalah para penumpang yang menaiki bus SUMBER WARAS bersamaku tadi. Sungguh sangat janggal dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala sebagai ungkapan keherananku. Tak berselang lama aku hanyut dalam heranku, tiba-tiba terdengar suara dari seorang laki-laki, “Mas,,,,, Bangun Mas,,, Mas,,, Bangun,,,!!!”. Seketika aku terbelalak. “Jogjane Oper mas…..Bise namung dugi Tidar mas” imbuh lelaki itu yang ternyata adalah sang kondektur.

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in cerita-cerita fiksi/fictive stories. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s