“Anak Desa Menuju Amerika” for el aman, edited and arranged by suhardiman

Anak Desa Menuju Amerika

Sosok sederhana dan senantiasa bersahaja ini bernama Ahmad Lizamuddin yang akrab dipanggil Lizam. Namun siapa mengira jika dibalik penampilannya yang terkesan biasa saja, justru menyimpan potensi dan prestasi luar biasa. Betapa tidak, cowok yang berasal dari Desa Menco, Kecamatan Wedung Kabupaten Demak ini memiliki pengalaman internasional. Berkat ketekunannya, ia telah melanglang buana ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Cowok alumnus MAN 2 Kudus jurusan Bahasa yang lulus tahun 2007 ini meraih beasiswa IELSP Cohort 9. IELSP (Indonesian English Language Study Program) merupakan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Inggris selama 8 minggu di universitas bergengsi di Amerika Serikat. Cohort berarti angkatan keberangkatan ke Amerika. Untuk mendapatkan beasiswa ini,  Lizam musti bersaing bersama ribuan pendaftar dari seluruh mahiswa-mahasiwa pendaftar dari universitas-universitas di Indonesia. Ada tiga tahapan seleksi untuk meraih beasiswa ini yaitu, seleksi berkas, tes TOEFL (bagi pendaftar dari PTAIN), dan sesi wawancara.

“Alhamdulillah dari semua tes yang ada, saya dinyatakan lolos. Saya dan 17 teman saya dari berbagai universitas di Indonesia berangkat pada gelombang kedua di Virginia Polytechnic Institute and State University,” tutur cowok yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa IAIN Walisongo Semarang. Ya, ia memang sedang menjalani semester akhir di Fakultas Tarbiyah jurusan Tadris Bahasa Inggris.

`Meski ia mengaku memiliki kemampuan akademik standar, namun kenyataan menunjukkan bahwa ketekunan akan berbuah manis. Itu karena ia berpegang teguh dengan prinsip hidup untuk menjadi diri sendiri, berusaha melakukan yang terbaik  dan terus berjuang mengejar mimpi-mimpi.  Tak mengherankan, saat lulus MAN 2 Kudus, ia masuk IAIN Walisongo melalui jalur PSSB (Program Seleksi Siswa Berprestasi), tanpa melalui tes. “Saya merasa bukan orang yang pintar, jadi semasa kuliah saya juga aktif berorganisasi. Dari situ saya bisa belajar bersosialiasi, mempunyai banyak teman dan relasi,“ ungkap cowok kelahiran 16 Desember 1989 ini dengan antusias.

Lalu apa saja pengalaman menarik selama di sana? Selama kurang lebih dua bulan, yakni 14 Oktober-10 Desember 2011, Lizam belajar bahasa Inggris di kelas Immersion bersama mahasiswa internasional dari negara lain, seperti China, Jepang, Korea, Spanyol, Iran, Pakistan, Arab Saudi, Irak, dsb. Selain itu, semua peserta juga terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan budaya. Untuk tempat tinggal, ia tinggal serumah bersama keluarga asli Amerika yakni keluarga Mrs. Sherry. Tinggal bersama serumah dengan warga asli disebut dengan istilah homestay.

“Bersama teman-teman, saya mengikuti 3 kelas selama belajar di Amerika, yaitu kelas Grammar, Listening and Speaking (GLS), Reading and Writing, dan American Culture Studies,” jelasnya. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa dalam satu kelas, terdapat kurang lebih 15 mahasiswa internasional dengan jumlah mahasiswa Indonesia 1-3 orang dengan jadwal kuliah dilaksanakan dari Senin sampai Jumat.

Terkait dengan proses belajar mengajar, Lizam mengaku sangat terkesan. Menurutnya, dosen yang mengajar di sana tepat waktu, tidak pernah absen, dan tidak pernah menyalahkan jika jawaban murid salah. “Hal pertama yang membuat berbeda dengan di Indonesia adalah kami memanggil dosen dengan sebutan “Professor” atau dengan namanya secara langsung, misalnya Jason, Alicia, dan Adam,” terangnya.  Selain itu, dosen tidak pernah duduk selama mengajar. Dosen berdiri, menjelaskan, dan mengajak diskusi interaktif dengan mahasiswanya. Dosen sangat aktif, energik, dan inspiratif.

Di kelas, setiap jawaban yang disampaikan peserta, selalu dijawab dengan “great”, “good”, “exactly”, “correct”. Jika ada jawaban yang salah, mereka tidak menjustifikasi secara langsung, “oh,, your answer is wrong”, etc, tetapi segera dibenarkan dengan ungkapan halus, “that was good, but the correct answer is…”. Wah, menarik sekali ya. Tapi, Lizam juga punya pengalaman menarik saat harus beradaptasi dengan suhu udara di sana. “Suhu paling panas yang saya rasakan adalah 12 derajat celcius, jadi ke luar rumah harus pake jaket tebal, dan juga toilet di sana tidak ada air untuk bersuci, tapi pakai tisu, jadi saya mesti siap bawa botol yang berisi air, he he,” ujarnya tersenyum.

Lalu, apakah motto hidup Lizam? “Life is choice, pilih keinginan dan mimpi terbaikmu, lalu lakukan yang terbaik untuk mewujudkannya, jangan lupa iringi do’a” pungkasnya. Wah, bisa ditiru nih. Lizam mengakui, apa yang telah ia capai juga tak lepas dari do’a orang tua, guru, dan dukungan teman-temannya. Image

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to “Anak Desa Menuju Amerika” for el aman, edited and arranged by suhardiman

  1. ahmadlizam says:

    iya,,,,,, salam kenal sob…

  2. Semoga sukses bozzz…….
    ojo lali bali ndesao bangun ndeso mencoe …..hehehehehe

  3. Noer Barry says:

    Hohohoho..
    Is that true?
    Ok..you are very amazing, wonderfull & fantastis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s