Kepergian yang Singkat Untuk Selamanya

Di pagi hari, hari minggu, saat itu aku melakukan aktifitas bersantai seperti biasa. Aku sedang bermain computer dikamarku yang sederhana.begitu senangnya hingga ku hiraukan semua aktifitas lainnya. Akan tetapi, sesaat kemudian ku dengar suara teriakan suara orang tua, sebut saja namanya pak Rin “Zam,,,,zam,,,din,,,din,,,ki koncomu piye??!! Bar adus kok langsung ambruk ning ngarep kamar, bengok-bengok kenopo iki!! ” (Zam,,,zam,,,din,,,din,,,ini temanmu bagaimana? Setelah mandi kok langsung jatuh di depan kamar, teriak-teriak kenapa ini!!)langsung dengan cepat ku hampiri kekamarnya yang terletak jauh dari kamarku, di komplek mushola ini. Seketika itu langsung ku peluk dia ku letakkan kepalanya di pangkuanku, sambil ku tanyakan keadaanya “kowe kenpo, dul??” (Kamu kenapa dul??), tanyaku ke temanku, sebut saja namanya dul. “Allah, Allah, Allah”.. sebutnya sebagai tanda jawab pertanyaanku. Seketika itu ku simpulkan keadaan yang tidak biasa yang sedang terjadi. Langsung ku teriak “tulung, tulung,” (Tolong-tolong) datanglah seorang laki-laki paruh baya, tetangga mushola yang kebetulan sedang memperbaiki mobilnya didekat mushola, sebut saja Pak sriyanto. “Piye mas??” (bagaimana mas??) Tanya-nya. “langsung betoh ting UGD pak!!” (langsung dibawa ke UGD pak) , jawabku, sembari masih terdengar suara aungan, dan asma Allah yang keluar dari mulut dul. Dengan cepat pula datang warga yang lain untuk membantu mengangkat dul kedalam mobil jenis sedan, Toyota charade milik pak sri. Dengan cepat ku tutup pintu belakang mobil, dan juga ditemani oleh seorang lelaki tua sebut saja pak kusman, memangku dul di jok belakang. Kemudian, ku katakan kepada pak sriyanto,” sampun pak, langsung UGD” (siap pak, langsung ke UGD). Gas mobilpun dengan cepat diinjak.

Dengan rasa panic, khawatir, dan takut bercampur menjadi satu menyelimuti diriku saat itu. Masih juga terdengar suara aungan, sembari menyebut asma Allah  dari mulut dul. Dengan hati-hati ku pegangi nya yang terbujur di pangkuanku dan pak kusman. Dengan sedikit tangisan menghiasi perjalanan ke UGD. Tak lama kemudian, sampailah di UGD, langsung ku buka pintu mobil dan mengangkat dul ke atas trolli. Setelah itu ku dorong masuk ruang UGD sembari berteriak,” tolong dok!!” . “kenapa ini??” Tanya bu dokter. Lalu ku jawab, “kejang dok, paru-parunya kumat”. Seketika bu dokter berseru kesuster-suster disana, “suster, persiapkan alat-alat!!”, “semuanya keluar, satu orang mendampingi disini”, imbuhnya. Pak sriyanto dan pak kusman pun keluar ruang penanganan UGD, hanya tersisa diriku mendampingi dul untuk mendapakan penanganan. Tak tega ku lihat raut mukanya dengan mata melotot, kedua tangannya menggenggam,  dengan aungan dari ungkapan rasa sakit yang ditahannya. Dengan berbagai peralatan yang disiapkan, ada saat yang membuatku paling tidak tega, yaitu disaat dia dipasangi alat bantu pernapasan. Dengan dimasukkannya selang panjang yang dimasukkannya lewat mulutnya hingga dia terlihat tersiksa. Sungguh tak kuasa ku merasakan keadaan ini. Kuputuskan untuk meninggalkan ruang penanganan. Seketika itu pak sri dan pak kusman menghampiri, “piye keadaane??!!” (bagaimana keadaannya?)Tanya pak sri. “tasih penanganan pak” (masih penanganan pak) jawabku. Tak lama kemudian ku dengar suara memanggilku,” Mas, mas!!” dengan cepat ku cari dari mana suara ini berasal. Ternyata seorang wanita di meja resepsionis kasir, memintaku untuk menghampirinya. “niki rencange, asmane sinten mas??” (ini temannya namanya siapa mas?) tanyanya. Dengan cepat ku menjawabnya “dul”. Ku lihat ekspresi berbeda dari wanita yang menanyaiku, “asmo lengkape sinten mas?” (nama lengakpnya siapa mas?) tanyanya padaku. Seketika bingung kurasakan karena ku tak tahu nama lengkapnya. “sekedap gih bak”, (sebentar ya mbak)seruku. Kemudian kuhampiri pak sri, “pak niki pripun?” (pak, ini bagaimana?) Tanya ku. Tak lama kemudian, pak sri langsung mengeluarkan handphone, bermerk blackberry dari sakunya untuk melakukan panggilan telefon. “halo, din, abidin….ki kowe ngerti  jengen lengkape dul porak?? Nek gak ngerti golekno dompete, jupuk KTPne gowo rene saiki!” (halo, din, abidin, kamu tahu nama lengkapnya dul apa tidak? Kalu tidak tahu carikan dompetnya ambil KTPnya dibawa kesini sekarang!) taya pak sri ke abidin melalui telefon. Beberapa saat kemudian, datanglah kang As’ad dan abidin ke UGD. “niki pak KTPne” (ini pak, KTPnya) seru abidin. Dengan cepat pak sriyanto memberikan KTP kepada petugas administrasi di meja kasir untuk pendataan, dan ternyata memang dulu, dul pernah dirawat disini.

Setelah berselang beberapa waktu, aku memasuki kembali ruang UGD dimana dul ditangani. Aku sangat tidak tega melihat keadaan seperti ini, dengan keadaan dul yang sangat kritis, bersamaberbagai peralatan yang digunakan, Tak tega ku melihatnya. Akhirnya, ku putuskan keluar dari ruang penanganan menghampiri kang as’ad, “kang ku tak balik sik yo? Aku tak siap-siap sik, salin harang” (mas, aku balik dulu ya? Aku persiapan dulu, ganti baju juga) seru ku. “Iyo rak po-po” jawab kang as’ad. Setelah itu, ku bergegas bersama pak sri dan pak kusman menuju mobil, kemudian pulang kerumah sendiri-sendiri. Sesampaiku di musola, tiba-tiba pak rin memanggilku, “zam, zam, mengko sore moro karo aku ya!” (zam, zam, nanti sore dating (RS) dengan saya ya!) seru pak rin. Dengan cepat ku jawabi “gih pak..” (iya pak). Lalu ku lanjutkan menuju kamarku untuk persiapan mandi, dan membenahi kamarku. Setelah selesai mandi, ku lanjutkan  istirahat dengan menidurkan badanku di kasur dan batal kesayanganku di kamar kecil di musola ini.

Menit berganti jam, saat itu tepat pukul jam 1 siang aku melihat hape jadulku, ada satu pesan singkat yang masuk, langsung ku buka, ternyata dari kang as’ad. Yang berisi “iki bapak karo mase wis tekan kene” (ini bapak dan masnya sudah sampai disini).

Pada sore hari, stelah solat asar, ku beranjak ke rumah pak kasrin untuk mengjaknya ke RS. “iyo zam sik” serunya. Setelah itu, bu mani, istri pak rin, menemuiku dengan menyerahkan kunci motor yang hendak dipakai menuju ke RS. Tak berselang lama pak rin keluar, “ayo zam!”  ucapnya. Dengan hati-hati ku bonceng kasrin menuju ke RS.

Sesampai di RS, langsung ku menuju ruang dimana dul dirawat, yang semula di ruang penanganan UGD, kemudian di pindah ke ruang ICU. Dengan tergesa-gesa, aku dan pak kasrin menuju ke ruang ICU. Begitu sampai di ruang ICU, langsung ku temui ayah dul, lalu ku bertanya “pripun pak keadaane?” (bagaimana keadaannya pak?). lalu ayahnyapun menjawab, “tasih dereng sadar, mas”. (masih belum sadar mas). Kemudian pak rin dan ayah dul saling mengobrol, tak berselang lama, keluar dari ruang ICU seorang suster, dan berseru, “Keluarga bapak slamet”. Kemudian di jawab ayah dul dengan berdiri, “gih bu,”. Dan tak beselang lama, suster mengajak ayah dul memasuki ruang ICU. Aku menunggu di luar dengan pak kasrin, ku lihat jam tanganku saat itu menunjukkan pukul 4.30. Namun, tak berselang lama ayah dul keluar, dan memeberi tahu kami, “mas,pak, dul pun boten wonten” (mas, pak dul sudah tidak ada). Seketika itu ku respon dengan bacaan tarji’ dengan kondisiku yang kaget, “innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Dengan cepat ku berlari memasuki ruang ICU untuk menemui dul..

Sungguh, kepergian yang singkat untuk selama-lamanya….

Advertisements

About ahmadlizam

I'm from menco, wedung, demak.... I like something new and challenging.....
This entry was posted in uneg-uneg dan renungan. Bookmark the permalink.

6 Responses to Kepergian yang Singkat Untuk Selamanya

  1. ade lukmono says:

    josss!!!!

  2. temannya mas suhardiman ea???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s