“Sujudku di fajar Blacksburg”

Hari ini adalah hari ke-2 setelah kedatanganku di bumi paman sam. Masih diselimuti jetlag yang melekat,aku terbangun dari tidurku berulang-ulang. Namun, di bangunku yang terakhir aku putuskan untuk tidak tidur lagi. Ku lihat jam dinding di kamar baruku menunjukkan pukul 2.00 am. Sangat pagi sekali memang. Setelah duduk terdiam beberapa saat, aku memutuskan beranjak dari tempat tidurku. Aku berjalan keluar kamarku menuju dapur untuk mengambil minum. Segelas air ku minum untuk menghilangkan dehidrasiku akibat dari tidur tak sehat. Kemudian, ku buka kulkas untuk mengambil makanan kecil sebagai ganjal perutku yang mulai protes. Setelah itu, Aku kembali kekamarku dan membuka laptop untuk membuka emailku. Iseng-iseng aku cari tahu info temperature udara di luar rumah saat itu minus 5 derajat celcius. Kaget, itu lah yang ku rasakan saat itu. Kenyataan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

Hangat,

Meski hanya mengenakan sarung dan kaos oblong pendek, aku tetap bisa merasakan suhu hangat di dalam rumah yang dipanasi mesin penghangat ini.

Dari yang telah ku lakukan untuk mengisi terjagaku, rasa bosan mulai ada. Aku putuskan untuk keluar rumah. Ku coba buka sedikit saja pintu depan, hawa dingin langsung menyerangku tiada ampun. Ku ambil jaket tebalku yang berwarna hijau. Aku sudah siap untuk keluar rumah.

Grr…. Benar-benar dingin sekali…. Akan tetapi sungguh aku menikmati ketenangan yang luar biasa. Aku bisa merasakan seakan alam semesta saat itu sangat khusuk bertasbih. Memuja dan mengagungkan kebesaran asmanya dengan segala kesunyian yang ada. Alam sangat terasa lepas tiada berpaling ke yang lainnya untuk selalu memujanya. Seakan keheningan fajar itu telah menyatu bersama tangis renungan segala makhluk yang dipenuhi rasa rindu kepada tuhannya. Ku tengok pohon-pohon di halaman rumah tempat tinggalku,terlihat tetesan-tetesan embun pun mulai turun, mengabarkan kabar-kabar  rahmat bagi tangan-tangan yang menengadah di sepertiga malam yang begitu mulia ini.

Sayup hembusan angin hampir  tiada terdengar. Hanya hawa dingin yang sangat menusuk mulai membelai tubuhku yang telah terselimuti jaket tebal. Sungguh tak pernah kurasakan hawa dingin seperti ini. Saat ini, memang kenyataan yang ku alami ketika ku menyambangi negeri ini.

Ya Allah gusti,,,apakah ini nikmat dari mu atau ini cobaan darimu??

Hanya tasbih yang bisa kulantunkan dengan suara lirih perlahan dari mulutku. Ku arahkan pandanganku menuju langit. Sungguh alangkah cerahnya langit malam itu. Taburan bintang tampak sangat jelas menghiasi di permukaan langit tanpa tertutupi awan.  Sesekali diantara mereka ada yang berjalan pelan, juga sesekali terlihat seolah berjatuhan.

Memang suasana seperti ini tidaklah begitu asing bagiku. Aku terbiasa mengalami hal ini ketika ngelilir dari tidurku di Musola. Teras Musola hidayatullah menjdai saksi lamunan serta renunganku ketika aku ngelilir di waktu fajar.

Pada waktu ini, aku terbiasa mendengar suara ayam jantan berkokok bersautan, seolah mereka ingin mengabarkan fajar yang penuh berkah. Akan tetapi, suara kokok ayam tak lagi bisa menemaniku jika terbangun di waktu fajar selama aku tinggal di negeri ini.

Setelah ku rasa cukup menikmati suasana luar rumah di waktu fajar, aku kembali masuk rumah. kemudian ku menuju kamar mandi. Dengan segera aku buka keran shower untuk mengambil air wudlu. Agak berbeda dengan kebiasaanku memang. Air wudlu dapat ku ambil dengan mudah dengan keran khusus wudlu ketika di musola. Meski, agak sulit, aku harus membiasakan diri menggunakan apa yang ada selama di sini.

Setelah selesai dengan wudluku,  aku langsung beranjak menuju lemariku untuk mengambil sajadah dan sarung.

Ku gelar sajadah ke arah seadanya. Memang aku belum mengetahui arah kiblat di sini. Langsung ku dirikan solat sunnah dua rakaat. Kemudian setelah selesai, ku lanjutkan berdzikir dengan bacaan dzikir yang sudah biasa ku lakukan setelah solat.

Seketika stelah selesai dzikir, ku tengadahkan kedua tanganku memohon kepada gusti Allah:

“ya allah, betapa hamba ini belum sempurna di sisimu hingga detik ini, betapa kekurangan sebegitu penuhnya atas hamba. Dosa-dosa hamba yang menggunung selalu memenuhi setiap langkah hamba hingga saat ini. Engkaulah maha segalanya ya rab, engkau maha sempurna, engkau maha pengampun, engkaulah sang pemilik segalanya yang hamba miliki saat ini. Jauhkan ujub dan ketakaburan dari hati hamba ya rab. Atas kehendakmulah semua dosa hamba bisa terampuni. Ya rabbi, tunjukkanlah jalanmu, agar hamba mampu berjalan di jalanmu yang selalu engkau ridhoi. Atas izinmu, atas segala kuasamu ya allah, agar apa yang hamba peroleh dapat membimbing hamba menuju kebaikan. Amin,,”

3460 Happy Hollow Rd

Blacksburg, VA

2460-873

Posted in uneg-uneg dan renungan | Leave a comment

Gusti allah rak ndeso…by cak nun

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?” Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya. “Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.”Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.
Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.
Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.
Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tealadan yang patut dicontoh

Image

10 hal yang bisa kamu pelajari dari Martin Luther King, Jr.
oleh U.S. Embassy – Jakarta, Indonesia pada 17 Januari 2011 jam 10:26

Luangkan sedikit waktumu untuk belajar dari seorang Martin Luther King dan sekilas kehidupannya yang menakjubkan.

1. Kadang-kadang hal-hal tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan

Pidato “I Have a Dream” disampaikan di tangga Lincoln Memorial dalam acara protes terbesar di Washington dan pidatonya dikenang dunia sejak itu.

2. Minat sangat penting

“I submit to you that if a man hasn’t discovered something that he will die for, he isn’t fit to live.”

“Menurutku jika seseorang belum menemukan sesuatu yang dapat membuat ia rela mengorbankan jiwanya, maka ia belum berhak untuk hidup.”

3. Kita melakukan semua ini bersama-sama

“Whatever affects one directly, affects all indirectly. I can never be what I ought to be until you are what you ought to be. This is the interrelated structure of reality.”

“Apapun yang mempengaruhi seseorang secara langsung akan mempengaruhi semua orang secara tidak langsung. Saya tidak bisa menjadi orang seperti semestinya sebelum Anda menjadi orang seperti semestinya. Ini adalah struktur interelasi dari dunia nyata.”

4. Tidak semuanya adalah tentangmu

“An individual has not started living until he can rise above the narrow confines of his individualistic concerns to the broader concerns of all humanity.”

“Seseorang belum benar-benar hidup selama ia hanya memikirkan tentang masalah pribadinya dan belum memikirkan tentang masalah-masalah lebih luas yang dihadapi seluruh umat manusia.”

5. Kamu harus siap untuk berdiri tegak untuk meraih cita-citamu

Sebuah langkah kecil yang menjadi tonggak penting dalam gerakan Hak Sipil. King memimpin kampanye yang mengakhiri segregasi rasial di Montgomery, AL.

6. Kekerasan Bukan Jawaban

“We who engage in nonviolent direct action are not the creators of tension. We merely bring to the surface the hidden tension that is already alive.”

“Kami yang melakukan aksi damai bukanlah yang menciptakan ketegangan. Kami hanya mengangkat kepermukaan ketegangan tersembunyi yang sudah ada.”

King benar-benar yakin bahwa keadilan dan kesetaraan ras akan berhasil dicapai dengan perjuangan tanpa kekerasan.

7. Cinta, pada kenyataannya, adalah jawaban

“Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that.”

“Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; hanya cahaya yang bisa melakukannya. Kebencian tidak bisa mengusir kebencian; hanya cinta yang bisa melakukannya.”

8. Perhatikan. Berdiri dan lakukanlah sesuatu!

“Change does not roll in on the wheels of inevitability, but comes through continuous struggle. And so we must straighten our backs and work for our freedom. A man can’t ride you unless your back is bent.”

“Perubahan tidak bergulir secara pasti seperti roda, namun datang karena perjuangan yang terus berlanjut. Oleh karena itu kita harus berdiri tegak dan berkerja keras untuk kebebasan kita. Tidak ada yang bisa menunggangi Anda kecuali punggung Anda sedang membungkuk.”

King tidak hanya berdedikasi untuk kesetaraan ras, ia juga memerangi kemiskinan, baik di tanah Amerika maupun di luar negeri. Ia mendirikan “Kampanye Rakyat Miskin” pada tahun 1968 dan memperbaiki kekurangan sistem ekonomi untuk melestarikan yang miskin.

9. Jadilah diri sendiri

“Human salvation lies in the hands of the creatively maladjusted.”

“Keselamatan umat manusia ada di tangan orang-orang kreatif yang tidak bisa menyesuaikan diri.”

King percaya bahwa setiap individu spesial. Masing-masing berada disini untuk suatu tujuan dan tujuan utama bagi kita semua adalah untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Tidak peduli apa warnamu, apa agamamu, seperti apa rupamu, seperti apa suaramu, tidak peduli darimana asalmu. KAMU ada di sini.

10. Percaya

Martin Luther King, Jr adalah orang yang penuh iman. Dia dihormati oleh pria dan wanita beriman dari keyakinan yang berbeda daripadanya. Poin utamanya adalah bahwa ia percaya. Bukan hanya percaya, tapi ia rela mati untuk apa yang ia yakini.

“Faith is taking the first step even when you don’t see the whole staircase.”

“Keyakinan adalah mengambil langkah pertama ketika Anda tidak bisa melihat seluruh tangganya.”

Posted in Opini saya | Leave a comment

“DOA SANG PENGAMEN MENEMANI PERJALANANKU”

Aku melihat jam tanganku sudah menunujukkan pukul 13.20. aku harus bersiap-siap untuk mandi, dls. Sebelum mandi, aku cari hape nexianku yang selalu setia menemaniku. Setelah ku temukan, ku ketik SMS “Pip, q ni gi persiapan, terus berangkat” kemudian langsung ku kirimkan ke afif. Setelah selesai, ku langsung beranjak menuju kamar mandiku yang terletak disebelah utara musola. Kemudian ku lanjutkan dengan persiapan lainnya, menggantti baju, packing, dls setelah selesai mandi.

Setelah siap, ku langsung beranjak untuk meninggalakan musola, tempatku tinggal ini. Langkah demi langkah ku lakukan untuk menuju pemberhentian bus di Jrakah. Sesuai dengan nasehat rekanku, zumdi yang terngiang ditelingaku ketika perjalananku ke Jrakah, ”kalu mau ke jogja, mending ngebus dari jrakah ke banyumanik, kemudian dari sana, baru naek bus ke Jogja. Itu lebih efisien daripada musti ke Terboyo terlebih dahulu.” Setelah tak terasa berjalan kaki selama kurang lebih lima menit, akhirnya aku sampai juga di pertigaan Jrakah. Setelah sampai disana, ku langsung membuka kantong kecil di tas punggungku, untuk memastikan ku membawa uang recehan untuk diberikan kepada pengamen di perjalananku nanti. Setelah ku mengecek, ku pastikan ini akan cukup.

Memang sudah kebiasaanku untuk membawa uang recehan kemanapun jika ku pergi menggunakan transportasi bus. Terkadang bagi sebagian teman-temanku, kebiasaanku selalu member uang recehan kepada pengamen adalah sebuah keanehan. Mereka mengira, dengan meberikan pengamen uang, akan memfaasilitasi para pengamen untuk tetap seperti itu. Teman-temanku menganggap, bahwa keberadaan para pengamen di jalan, merupakan akibat dari kemalasan mereka sendiri, dengan tidak mau untuk bekerja dengan usaha mereka tanpa menjadikan jalanan sebagai lahan yang menguntungkan. Teman-temanku beranggapan dengan apa yang ku lakukan akan melanggengkan mereka untuk tetap menjadi “pengamen”.

Berbeda dengan teman-temanku yang menganggap dengan apa yang ku lakukan adalah sebuah keanehan, aku memandang hal itu adalah sebuah hal yang positif. Dengan ku memberi, aku berharap ini akan membantu meringankan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan logika yang menjadi pedomanku bahwa jika aku memberi mereka uang recehan kisaran sebesar seratus rupiah hingga seribuan rupiah, aku tidak akan langsung jatuh miskin. Dan mereka tidak pula langsung menjadi kaya dengan uang sebesar itu. Terlalu tega memang jika berpikir sebaliknya. Jika boleh memilih, aku yakin seratus persen dari seluruh penduduk di dunia ini tidak akan mau hidup seperti itu.

Setelah menunggu selama sepuluh menit, datanglah bus yang ku tunggu dari arah mangkang. Sebelum naik, aku menanyakan kepada kondektur bus, “Banyumanik pak?”. Dan sang kondektur menjawab “iyo mas, langsung”. Tanpa berlama-lama, aku langsung masuk ke dalam bus dan ku menoleh kanan kiri di dalam bus untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tampaknya semua penuh. Dengan kondisi seperti itu, berdiri adalah pilhannya. Tak lama kemudian, terdengar teriakan khas, “YO!!!”. Ini menandakan jika bus sudah siap berangkat. Sambil berdiri, aku sering mengusap keningku yang berkeringat. Memang ku rasakan udara semarang saat itu begitu panas. Tak lama kemudian, sampailah bus untuk melewati “Kali Banteng”, suatu permasalahan khas tersendiri jika melewati jalan dengan bundarannya yang terkenal ini. Kesabaran yang luarbiasa harus sudah disiapkan untuk melewati jalan ini. Hal ini dikarenakan kemacetan yang panjang sudah menjadi rutinitas yang terjadi di jalan ini. Setelah busa melewati bundaran kali banteng, aku bersyukur sekali karena ada seorang penumpang yang turun. Langsung kuhampiri tempat duduk yang kosong itu, yang letaknya tepat dibelakangku ketika aku berdiri.

“Huft, akhirya duduk juga”, helaku. Dalam perjalanan menuju banyumanik, aku hanya berdiam diri sambil melihat dari jendela pemandangan hiruk pikuk kota Semarang. Tiga puluh menit berlalu tak terasa aku sudah sampai di banyu manik. “kiri pak!” teriakku. Aku langsung turun menuju lalu berjalan menuju halte pemberhentian bus. Aku lihat jam tanganku, waktu menunjukkan jam 15.30. berarti aku musti mencari tempat solat untuk menunaikan solat ashar. Aku mendapati tempat solat di tempat agen PO bus yang terletak tidak jauh dari halte. Di tempat yang berukurran 2×1 meter ini, aku menunaikan solat ashar. Setelah selesai menunaikan solat, akupun lanngsung beranjak menuju halte.

Sesampai di halte, tak berselang lama datanglah bus jurusan jogja. “Jogja, Jogja, Jogja!!!!” teriak sang kondektur. Setelah bis berhenti, aku langsung naik dan mendapati banyak tempat duduk yang masih kosong. Aku memilih duduk di kursi urutan kedua dibelakang supir. Tak berselang lama para penumpang mulai masuk dan memenuhi bus “SUMBER WARAS” ini. Sebuah tanda baik kalau bus akan segera berangkat.

Sembari menunggu perjalanan dimulai, aku membuka tasku untuk mengambil buku untuk dibaca. Sudah kebiasaanku membawa buku bacaan untuk mengisi perjalananku dalam berpergian. Semabri membaca, tak lupa pula aku mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan para pengamen disaat menunggu keberangkatan bus menuju jogja di halte banyumanik waktu itu.

Akhirnya, bus sudah mulai bergerak meninggalkan halte. Pengamen dengan gitarnya masih setia untuk menghiburku bersama penumpang lainnya. Kemudian kondektur memuulai kerjanya untuk mengumpulkan ongkos dari para penumpang. Silih berganti pengamen masuk bus seiring bertambahnya perjalanan bus ini. Rata-rata setelah dua lagu selseai mereka menyudahinya. Kemudian mengumplkan uang dari para penumpang. Aku memberi mereka uang recehan yang sudah aku persiapkan. Semua pengamen aku beri, tanpa ada yang ketinggalan. Tak ku sadari, ketika bis tiba di terminal amabwara sudah terhitung ada sepuluhan pengamen telah menemani perjalananku.

Kemudian, buspun melanjutkan perjalanannya menuju jogja. Aktifitas pengamen tiada hentinya menemani perjalananku. Dari sekian pengamen, aku sangat terkesan dari seorang pengamen ketika bus sampai di perbatasan awal masuk kota Boyolali. Pengamen itu menyanyikan dua buah lagu yang dpopulerkan band Dewa. Yang mebuatku terkesan bukanlah lagunya. Akan tetapi kalimat penutup yang diucapkan setelah selesai mengamen sebelum mengumpulkan recehan uang dari para penumpang. “sekian terimakasih, semoga anda dan tujuh turunan anda tidak mengalami nasib sama seperti seperti saya. Ikhlas anda senang bagi saya” ucap sang pengamen. Kemudian pengamen itu mengumpulkan recehan dari kursi depan ke belakang. Saat itu aku mengamati dari depan hingga belakang, hanya tempat duduk kedua yang ku duduki bersama dua orang disampingku saja yang memberinya uang. Lainya hanya mengangkat tangan setinggi dada dengan telapak tangan membuka. Hal ini sebagai tanda jika tidak mau memberi. Tak ku kira mereka setega itu.

Aku pandangi panorama alam melalui jendelaku sembari menyudahi membaca bukuku. Aku sungguh terkejut dengan apa yang aku alami saat itu. Sebuah peristiwa yang sangat tidak biasa dan janggal.

Aku berada dalam sebuah bus yang sepi penumpang. Hanya lima orang yang duduk didalam bus itu. Aku bersama empat orang lainnya. Buspun tetap melaju meski kosong seperti itu. Sebuah kejanggalan lagi ketika bus berhenti ditengah jalan untuk menaikkan penumpang yang berjumlah banyak dengan pakaian compang-camping yang mereka kenakan. Mereka berjumlah banyak sekali sehingga ketika mereka masuk ke dalam bus, seisi bus menjadi penuh karena mereka. Ku lihat ke belakang, dari mereka tidak ada yang duduk. Semua kursi selain yang ku tempati bersama empat orang disampingku tetap kosong.

Setelah mereka semua masuk, salah satu dari mereka memimpin untuk membuka dan mengutarakan maksud tujuan mereka. “permisi pak supir, pak kondektur, dan penumpang sekalian, kami semua disini mau ngamen, untuk menghibur anda sekalian.” Tak berselang lama merekapun mulai menyanyikan lagu-lagu. Sembari mendengarkan, aku mengamati wajah-wajah mereka. Dan ternyata mereka semua adalah para penumpang yang menaiki bus SUMBER WARAS bersamaku tadi. Sungguh sangat janggal dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala sebagai ungkapan keherananku. Tak berselang lama aku hanyut dalam heranku, tiba-tiba terdengar suara dari seorang laki-laki, “Mas,,,,, Bangun Mas,,, Mas,,, Bangun,,,!!!”. Seketika aku terbelalak. “Jogjane Oper mas…..Bise namung dugi Tidar mas” imbuh lelaki itu yang ternyata adalah sang kondektur.

Posted in cerita-cerita fiksi/fictive stories | Leave a comment

“Anak Desa Menuju Amerika” for el aman, edited and arranged by suhardiman

Anak Desa Menuju Amerika

Sosok sederhana dan senantiasa bersahaja ini bernama Ahmad Lizamuddin yang akrab dipanggil Lizam. Namun siapa mengira jika dibalik penampilannya yang terkesan biasa saja, justru menyimpan potensi dan prestasi luar biasa. Betapa tidak, cowok yang berasal dari Desa Menco, Kecamatan Wedung Kabupaten Demak ini memiliki pengalaman internasional. Berkat ketekunannya, ia telah melanglang buana ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Cowok alumnus MAN 2 Kudus jurusan Bahasa yang lulus tahun 2007 ini meraih beasiswa IELSP Cohort 9. IELSP (Indonesian English Language Study Program) merupakan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Inggris selama 8 minggu di universitas bergengsi di Amerika Serikat. Cohort berarti angkatan keberangkatan ke Amerika. Untuk mendapatkan beasiswa ini,  Lizam musti bersaing bersama ribuan pendaftar dari seluruh mahiswa-mahasiwa pendaftar dari universitas-universitas di Indonesia. Ada tiga tahapan seleksi untuk meraih beasiswa ini yaitu, seleksi berkas, tes TOEFL (bagi pendaftar dari PTAIN), dan sesi wawancara.

“Alhamdulillah dari semua tes yang ada, saya dinyatakan lolos. Saya dan 17 teman saya dari berbagai universitas di Indonesia berangkat pada gelombang kedua di Virginia Polytechnic Institute and State University,” tutur cowok yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa IAIN Walisongo Semarang. Ya, ia memang sedang menjalani semester akhir di Fakultas Tarbiyah jurusan Tadris Bahasa Inggris.

`Meski ia mengaku memiliki kemampuan akademik standar, namun kenyataan menunjukkan bahwa ketekunan akan berbuah manis. Itu karena ia berpegang teguh dengan prinsip hidup untuk menjadi diri sendiri, berusaha melakukan yang terbaik  dan terus berjuang mengejar mimpi-mimpi.  Tak mengherankan, saat lulus MAN 2 Kudus, ia masuk IAIN Walisongo melalui jalur PSSB (Program Seleksi Siswa Berprestasi), tanpa melalui tes. “Saya merasa bukan orang yang pintar, jadi semasa kuliah saya juga aktif berorganisasi. Dari situ saya bisa belajar bersosialiasi, mempunyai banyak teman dan relasi,“ ungkap cowok kelahiran 16 Desember 1989 ini dengan antusias.

Lalu apa saja pengalaman menarik selama di sana? Selama kurang lebih dua bulan, yakni 14 Oktober-10 Desember 2011, Lizam belajar bahasa Inggris di kelas Immersion bersama mahasiswa internasional dari negara lain, seperti China, Jepang, Korea, Spanyol, Iran, Pakistan, Arab Saudi, Irak, dsb. Selain itu, semua peserta juga terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan budaya. Untuk tempat tinggal, ia tinggal serumah bersama keluarga asli Amerika yakni keluarga Mrs. Sherry. Tinggal bersama serumah dengan warga asli disebut dengan istilah homestay.

“Bersama teman-teman, saya mengikuti 3 kelas selama belajar di Amerika, yaitu kelas Grammar, Listening and Speaking (GLS), Reading and Writing, dan American Culture Studies,” jelasnya. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa dalam satu kelas, terdapat kurang lebih 15 mahasiswa internasional dengan jumlah mahasiswa Indonesia 1-3 orang dengan jadwal kuliah dilaksanakan dari Senin sampai Jumat.

Terkait dengan proses belajar mengajar, Lizam mengaku sangat terkesan. Menurutnya, dosen yang mengajar di sana tepat waktu, tidak pernah absen, dan tidak pernah menyalahkan jika jawaban murid salah. “Hal pertama yang membuat berbeda dengan di Indonesia adalah kami memanggil dosen dengan sebutan “Professor” atau dengan namanya secara langsung, misalnya Jason, Alicia, dan Adam,” terangnya.  Selain itu, dosen tidak pernah duduk selama mengajar. Dosen berdiri, menjelaskan, dan mengajak diskusi interaktif dengan mahasiswanya. Dosen sangat aktif, energik, dan inspiratif.

Di kelas, setiap jawaban yang disampaikan peserta, selalu dijawab dengan “great”, “good”, “exactly”, “correct”. Jika ada jawaban yang salah, mereka tidak menjustifikasi secara langsung, “oh,, your answer is wrong”, etc, tetapi segera dibenarkan dengan ungkapan halus, “that was good, but the correct answer is…”. Wah, menarik sekali ya. Tapi, Lizam juga punya pengalaman menarik saat harus beradaptasi dengan suhu udara di sana. “Suhu paling panas yang saya rasakan adalah 12 derajat celcius, jadi ke luar rumah harus pake jaket tebal, dan juga toilet di sana tidak ada air untuk bersuci, tapi pakai tisu, jadi saya mesti siap bawa botol yang berisi air, he he,” ujarnya tersenyum.

Lalu, apakah motto hidup Lizam? “Life is choice, pilih keinginan dan mimpi terbaikmu, lalu lakukan yang terbaik untuk mewujudkannya, jangan lupa iringi do’a” pungkasnya. Wah, bisa ditiru nih. Lizam mengakui, apa yang telah ia capai juga tak lepas dari do’a orang tua, guru, dan dukungan teman-temannya. Image

Posted in Uncategorized | 2 Comments

My promise

Being an English teacher is my future career aspiration. It is supported by my education background as a student of English education department. I also love English so much. In my opinion being a teacher is noble profession. When teachers teach their students, it means the teachers transfer the knowledge to their students. And finally students who do not understand all the materials taught, they can understand after they are taught by the teachers. So that why we call teachers as “Heroes of knowledge”. Moreover I can be motivated the condition of my village that has low education quality. It is rarely found people who study in university. Beside that, in the future I have deep and high motivation to teach in my village. Because schools in my village have no teacher who was graduated from the field, English education. Therefore, I study in English education department now. I want to build the education aspect in my village. By becoming a professional teacher, I hope that I can improve the students’ education quality of the schools in my village to be better.

For this time, I have to do preparations to reach my plan for becoming a good English teacher. I always study hard to prepare my skill in academic. Then, my IELSP experience is very useful to reach my career in the future to be a good professional English teacher.

In addition, Relating to my hope about my IELSP my experience, I believe that this program will give me different experiences. I  gathered with many students who had different cultures. So, we shared each other about our own cultures. Beside that, I  got more experiences in my English study, because I learned it from people who speak English as their first language. In my conclusion, this program gave me uncountable and valuable experiences especially for my English skill.    

Image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

REASONS FOR MARRIEGE

Many reasons which make people to decide for marriage. for instances, love, background, achivement, etc are some reasons for people to get marriage with their own couple. But,now days, I see many spouses get marriage because of “Money” as the main reason. It is based on the circumstances that change to be material era. Even, an old inhandsome  man who is rich, can have a young beautiful woman. It is not rare anymore that many women sacrifice for their unwanted life with their husband without love. it is so painful.

In my opinion, choosing a spouse is not like buying some fruit in the market where the quality is known in the short time. There are many causes which can make a couple love each other. One example, some women want to get married with old guys because of sincere love. Otherwise, she loves him just because the old guy has a lot of money.  Besides those characteristics, for me, there are two main characteristics which lead me to get married.

First, I must love her very much. At first glance, it is very simple. In fact, it is very important to have a love feeling toward someone. Loving each other is the basic thing in order for a couple to be able to live happily. It is impossible that people get married without love. They will always get pressure in their daily life. It used to occur a long time ago in traditional ways when parents marry their children with their choices and they do not love each other. Then, in the middle of their lives, they got divorced. Avoiding this problem, I do not want to marry a girl that I do not love.

Second, the girl whom I love has to have a similar background with me. The similarity of background is also very important. A couple will not be able to live together because they have different backgrounds. For example, a guy who graduates from an undergraduate university should marry with a girl who has same education background. It is impossible thing if they have different level of education background. Certainly, there will be no same understanding between them in all aspects. Even, it affects the way of thinking in daily life. So, I am going to get married with a girl with a similar background in order that my wife and I will have similar ways of thinking.

In conclusion, I am looking for a future spouse who I love and who has a similar background as me.  Those are very urgent that determine a happy marriage. So, I hope that I will live with my new family happily everlastingly.

Posted in My Opinion | 3 Comments